Cari Artikel Lainnya

Minggu, 07 Agustus 2011

Sasando



Sasando merupakan alat musik tradisi berasal dari pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, tergolong instumen musik petik. Bagian utama sasando berbentuk tabung panjang yang biasa terbuat dari bambu. Lalu pada bagian tengah, melingkar dari atas ke bawah diberi ganjalan-ganjalan di mana senar-senar (dawai-dawai) yang direntangkan di tabung, dari

atas ke bawah bertumpu. Ganjalan-ganjalan ini memberikan nada yang berbeda-beda kepada setiap petikan senar. Lalu tabung sasando ini ditaruh dalam sebuah wadah yang terbuat dari semacam anyaman daun lontar yang dibuat seperti kipas. Wadah ini merupakan tempat resonansi sasando. Tehnik bermain sasando ada miripnya dengan instrumen petik lainnya seperti gitar, biola dan kecapi. Selain dimainkan secara solo, Sasando juga dapat dimainkan secara orkestra.

Legenda sasando
Konon, ada seorang pemuda bernama Sangguana di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Suatu hari ia menggembala di padang sabana. Ketika merasa lelah dan ngantuk, ia pun jatuh tertidur di bawah sebuah pohon lontar. Dalam tidur, ia bermimpi memainkan sebuah alat musik misterius. Ketika terbangun ia masih mengingat nada-nada yang dimainkannya. Saat kembali tidur, anehnya ia kembali memimpikan hal yang sama. Akhirnya,

berdasarkan mimpinya itu Sangguana memutuskan membuat sebuah alat musik dari daun lontar dengan senar-senar di tengahnya. Alat musik yang mirip harpa itu sekarang dikenal sebagai sasando. Secara harfiah nama Sasando menurut asal katanya dalam bahasa Rote, sasandu, yang artinya alat yang bergetar atau berbunyi. Konon sasando digunakan di kalangan masyarakat Rote sejak abad ke-7.//mediaedukasi.com

Senin, 01 Agustus 2011

Seni Kercengan Bawean


Bukan warga Bawean kalau tidak bisa menciptakan sesuatu yang sifatnya alternatif, sekalipun hal itu berupa kesenian. Khawatir dengan budaya modern yang terlalu mengumbas goyangan erotis dan pornoaksi, sejumlah seniman Bawean menciptakan kesenian Kercengan. Karena dicipatkan seniman asli Bawean, tarian ini bernuansa religius.

KALAU kita pernah melihat tarian Saman dari Nagro Aceh Darussalam, maka kesenian tersebut hampir mirip dengan seni Kercengan di Bawean. Bedanya penari Kercengan membawa alat musik kercengan yang menari mengikuti alunan alat musik kercengan. Sementara tari Saman, penarinya murni melakukan atraksi olah tubuh tari-tarian degan diiringi nyanyian sang penari.
Serupa tapi tidak sama, demikian penilaian orang saat membandingkan Kercengan dengan tarian Saman. Untuk tarian Kercengan, penarinya terdiri puluhan orang gadis berjejer beberapa baris di depan. Seperti dengan tarian Saman, seni Kercengan juga mengutamakan gerak tangan, menggunakan dua unsur gerak yang menjadi unsur dasar dalam tarian, yaitu tepuk tangan dan tepuk dada.
Selain grup penari, dalam seni Kercengan juga ada grup musik, yang terdiri beberapa orang pria duduk di belakang penari mengirini alunan tari. Para pemusik ini memainkan irama serasi dengan menabuh rebana al-banjari. Selain itu, ada grup penyanyi yang biasanya membawakan shalawat. Untuk penyanyi ini, ada pria dan wanita.
Saat ini di Bawean sedikitnya ada 42 grup seni Kercengan, tidak hanya mampu menarik masyarakat yang berjarak 81 mil dari Pelabuhan Gresik itu saja, masyarakat dari negeri asing seperti Malaysia juga terhibur dengan kesenian bernafaskan religi tersebut. Di negeri Jiran, saat ini ada beberapa grup Kercengan yang sudah populer, salah satunya grup Putri Paginda Ampang.
Adalah Iling Khairil Anwar, Ketua Umum Lembaga Eskavasi Budaya (BEKU) yang memiliki kelompok penari Kercengan. Nama kelompoknya "Bhei-Bhei" yang cukup dikenal di kalanan masyarakat Bawean, sebagai salah satu grup Kercengan asli di Bawean.
Menurut Iling Khairil Anwar, Kercengan ini muncul sebagai salah satu tameng masuknya hiburan-hiburan hot ke Bawean. Artinya, kesenian modern hot yang masuk ke Bawean, harus dihadapi dengan kesenian juga, tidak bisa jika hanya dengan menggelar pengajian saja.
"Sehingga untuk menandingi kesenian modern yang hoti itu, harus ada pembanding dari kalangan masyarakat. Salahsatunya adalah menciptakan kesenian yang lebih bernafaskan agama lebih baik daripada pertunjukan yang mempertontonkan aurat," paparnya.
Iling menilai, seni Kercengan tidak akan menarik jika tanpa seorang wanita ikut tampil. Karena tampilnya wanita bisa merubah suasana penampilan, namun tentunya disesuaikan dengan konsep busana yang Islami.
"Tidak menarik bila hanya menampilkan kalangan lelaki saja, sebab tidak bisa merubah suasana penampilan. Dalam konteks budaya, saya kira tidak haram sebab tujuannya baik," terangnya.
Ahidin sebagai Ketua Group Putri Paginda, mengatakan kesenian kercengan Bawean ternyata mendapat sambutan luar biasa dari seluruh warga Indonesia dan masyarakat setempat di Malaysia. "Suara merdu dengan irama bagus diiringi gerakan tangan yang kompak menjadi daya tarik tersendiri bagi penikmat di Malaysia," katanya.
Menariknya, personel grup Kercengan Putri Paginda Ampang adalah putra dan putri keturunan Bawean yang lahir di Malaysia. Grup ini sudah empat tahun eksis di Malaysia. Selain itu, seni Kercengan juga sering tampil di wilayah Gresikl kota, menghibur dalam acara-acara yang digelar oleh pemerintah kabupaten dan masyarajat umum. (*)//suaragiri.com

Kesenian Tari Gandrung Sasak Lombok


Tari kreasi ini berasal dari daerah Lombok. Gandrung rembak berarti gandrung banyak, maksudnya tari gandrung yang ditarikan oleh beberapa orang penari.

Pada awalnya gandrung adalah seni pertunjukan rakyat yang hidup berkembang di tengah-tengah masyarakat Lombok. Ditampil­kan di arena terbuka yang dikelilingi penonton, dengan waktu penyajian yang panjang yaitu lebih kurang 3 jam, gerakan-gerakan­nya bersifat improvisasi meskipun terdapat gerak-gerak tertentu yang menjadi ciri khas gerak pada tari tersebut, yaitu ngindang, gabor seriak, ngecok, dan tindak barong. Ditarikan seorang penari laki-laki yang berbusana wanita.


Untuk mengangkat tad gandrung pada panggung prosenium, pada tahun 1991 diadakan penataan tari gandrung oleh Abdul Hamid dan Dra. Luh Putu Sari Ekayani dengan menambah jumlah penari menjadi 5 orang penari wanita dan diberi nama Gandrung Rembak, dengan waktu penyajian 7 menit.

Gandrung merupakan tari pergaulan muda-mudi dan bersifat hiburan. Struktur penyajiannya terbagi menjadi 4 bagian, yaitu :

Bapangan, menggambarkan seorang gadis yang ingin menarik perhatian lawan jenisnya dengan memperlihatkan kemampu­annya sendiri.
Tangis, penggambaran perasaan rindu pada seseorang untuk diajak berkomunikasi, diungkapkan Iewat link lagu.
Penepekan, memilih seorang yang disenangi untuk diajak menari. Calon penari yang terpilih dinyatakan dengan sentuhan kipas (nepek) oleh penari gandrung.
Pengibingan, pengibingan berasal dari kata ngibing yang berarti menari bersama (antara penari gandrung dan penonton yang ditepek).
Penari memakai busana kain panjang, baju lengan panjang, kemben, gelung, ampok-ampok, bapang dan membawa property kipas. Pada bagian gelung dilengkapi dengan semacam senjata dari bambu yang diruncingkan, gunanya untuk melindungi dari gangguan pasangan menari yang nakal (kurang sopan).//lombokku.com

Parade Angklung Pecahkan Rekor

Pergelaran angklung yang diadakan di Monument Park, White House, Washington DC, Amerika Serikat, pada hari Sabtu (9/7) lalu, masuk dalam Guiness Book of Records sebagai jumlah pemain angklung terbanyak. Sebanyak 5.185 peserta pada Indonesia Multiculturism Festival di KBRI Washington DC turut serta memainkan angklung.

Dalam keterangan pers oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Ir. Herdiwan M.M, disebutkan bahwa antusiasme masyarakat di sana sangat tinggi. "Padahal target kami adalah 5.000 orang, ternyata pesertanya melebihi perkiraan," ungkapnya. Dengan meriahnya pertunjukkan tersebut, Herdiwan mengatakan bahwa warga di sana meminta untuk dilakukan kunjungan rutin oleh tim angklung.

Festival tersebut juga menampilkan kesenian Indonesia lain, seperti tari jaipong dan wayang golek. Parade angklung sendiri dipimpin oleh Daeng Udjo dari Saung Angklung Udjo. Gubernur Jawa Barat yang turut hadir dalam festival tersebut mengatakan, "Kita harus menjadikan kebudayaan sebagai komunitas yang dapat menguasai ekonomi kelak."