Cari Artikel Lainnya

Selasa, 14 Januari 2014

Fenomena memelihara burung di Indonesia

"klangenan memelihara burung" Perkutut Kegemaran memelihara burung perkutut /klangenan Perkutut merupakan warisan budaya jawa yang hingga kini masih dilestarikan, hal ini dimungkinkan di dalamnya mengandung nilai-nilai ajaran yang adiluhung sifatnya. Para leluhur kita, khususnya orang Jawa, telah menempatkan burung Perkutut begitu terhormat dibanding jenis burung yang lain. Burung Perkutut dianggap punya tuah mistis yang bisa disejajarkan dengan tuah mistis pusaka (keris dan azimat lainnya). Berkaitan dengan tuah mistis Perkutut tersebut leluhur Jawa mewariskan ilmu tentang "katuranggan Perkutut"(ilmu hal ihwal perkutut). Berdasar ilmu katuranggan tersebut, bisa diketahui pengaruh burung Perkutut (yang mempunyai ciri-ciri tertentu) terhadap pemiliknya. Ada burung yang setengah dianjurkan untuk dipelihara, ada juga jenis yang tidak boleh dipelihara oleh sembarang orang. Memelihara Perkutut dulunya lebih cenderung kepada suatu klangenan. Artinya barang (dalam hal ini, burung) yang dimiliki bisa memberikan rasa senang dalam batin atau bisa mempersembahkan keindahan kepada pemiliknya. Dalam bahasa Jawa Kuno mempersembahkan keindahan istilahnya kalangon atau kalangwan. Barangkali pula kata klangenan dalam bahasa Jawa kini berasal dari kata kalangon atau kalangwan tadi. Sudah barang tentu yang bisa mempunyai klangenan pada waktu dulu adalah golongan masyarakat priyayi, berduit, atau punya kedudukan penting di tengah masyarakat. Dengan demikian pengetahuan tentang Perkutut tidak bisa merambah ke rakyat biasa. Alasannya, rakyat kebanyakan belum pas mempunyai klangenan,dikarenakan kesibukannya dalam mencari nafkah. Bagi rakyat biasa biasanya hanya sebagai penangkap burung (tukang pikat). Dikarenakan Perkutut sebagai klangenan, maka para penangkap burung memburu burung yang bagus kualitas suaranya memenuhi pesanan para priyayi yang tinggal di kota. Sebaliknya para pemelihara yang menganggap burung yang dipelihara sebagai klangenan, maka tidak terpikirkan untuk membudidayakan atau mengembang biakkan dengan cara diternak. Akibatnya Perkutut di alam bebas semakin langka yang bagus, bahkan cenderung punah. Jaman sekarang kegemaran memelihara Perkutut sebagai klangenan khas Jawa ini ,rupanya telah menular kepada etnis Tionghoa yang tinggal di bumi Jawa. Barangkali oleh orang Tionghoa yang bernaluri bisnis tinggi ,menganggap Perkutut bisa dijadikan sarana berhubungan dengan kekuasaan yang ada. Dan kalau hubungan dengan kekuasaan terjadi, maka lancarlah bisnisnya. Orang-orang Tionghoa memang sangat jeli melihat peluang bisnis. Begitu mengetahui burung Perkutut di alam bebas Indonesia mendekati kepunahan, mereka mendatangkan burung Perkutut dari Thailand. Semula Perkutut Bangkok kurang menarik bagi penggemar di Indonesia, karena suaranya kurang memenuhi selera. Kesannya hanya besar tapi tanpa lagu. Para pedagang burung Thailand (yang awalnya kebetulan juga etnis Tionghoa) sangat kreatif untuk memenuhi selera pasar di Indonesia. Disamping mereka mengekspor burung ke Indonesia, juga membeli burung dari Indonesia. Perkutut Indonesia itu kemudian disilangkan dengan Perkutut Bangkok. Bahkan persilangan begitu berkembang dengan berbagai jenis Perkutut yang ada di Asia Tenggara. Dan hasilnya burung Perkutut Bangkok yang di ekspor ke Indonesia bisa memenuhi selera penggemar di Indonesia. Sampai saat ini hubungan silang menyilang Perkutut antara Indonesia dan Thailand terus berlanjut. Maka semakin menarik dan menjadi tantangan bagi kita, Bangsa Indonesia, untuk menggeluti Budidaya Perkutut agar warisan budaya ini bisa dilestarikan. Pada awal pertama seseorang berminat untuk memelihara burung Perkutut seyogyanya berusaha memahami lebih dahulu tentang dasar suara burung Perkutut. Pada masa sekarang, bunyi yang diminati para penggemar sudah mengalami perubahan. Meskipun demikian tetap saja menggunakan 5 (lima) pokok dasar penilaian suara : 1. Suara depan : hoor, kini telah berkembang dari nilai rendah ke atas : Hoor, Klaar, Wee, Kleo, dan Klao. 2. Suara tengah : kete, berkembang dalam beberapa jenis : - telon : te , sehingga bunyinya : hoor te kuung - engkel : tete, sehingga bunyinya : hoor tete kuung - satu setengah : tetete, sehingga bunyinya : hoor tetete kuung - double : tete tete, sehingga bunyinya : hoor tete tete kuung - double setengah : tete tetete, sehingga bunyinya : hoor tete tetete kuung - triple : tete tete tete, sehingga bunyinya : hoor tete tete tete kuung 3. Suara belakang : kuung merupakan yang terbaik, dibawahnya kooo, kemudian kuuk yang terendah nilainya. 4. Irama : merupakan perpaduan suara depan, tengah, dan belakang. Yang bagus lelah atau laras (Jawa). Ketukan iramanya terdengar merdu menyentuh rasa keindahan, seolah-olah menjadi perantara antara yang ada dan suwung. Ibarat suara gamelan dalam Pathet Manyura atau Pathet 9 yang mempunyai pengaruh menenangkan. Sedang irama yang kurang baik adalah yang groyok dan rentet, suaranya mempengaruhi perasaan menjadi gelisah. 5. Dasar suara atau latar. Jenisnya beberapa macam, diantaranya : - Cowong tembus : bening merdu dan mendengung, kira-kira seperti suaranya Pavaroti atau Nyi Condro Lukito. - Cowong : merdu jangkauan suaranya sedang, Kristal : melengking tinggi dan terdengar jelas bunyi (ng). - Arum : suara sedang tanpa bunyi (ng) - Alus atau ulem (Jw.) - Kaku atau keras (atos, Jw.), belakangnya terkunci bunyi (k) : hoor kete kuuk - Tebal (Kandel) : mantap terdengarnya. - Tipis (lemah) : lirih suaranya. Perpaduan lima dasar penilaian suara tersebut yang menentukan bagus tidaknya suara Perkutut. Hal ini sulit dijelaskan dengan tulisan, maka kami anjurkan untuk mendengar langsung secara praktek kalau ada lomba atau latihan lomba. Pada dasarnya suara burung Perkutut tidak ada yang sama persis meskipun berasal dari induk yang sama. Maka memilih suara butung Perkutut untuk klangenan subyektif sekali sifatnya. Kecocokan hati setiap orang terhadap suatu jenis suara burung perkutut tidak sama. Maka suatu anjuran yang sederhana dan sekiranya bisa dijadikan pedoman adalah memilih suara burung yang cocok dengan hati dan perasaan kita masing-masing. Dengan demikian semakin mengendap kemampuan spiritual seseorang akan semakin mudah menemukan suara burung Perkutut yang sesuai dengan citarasanya. Maka bisa dipahami juga kalau pada para penghayat Spiritualisme Jawa kebanyakan juga penggemar Perkutut. Memang pada dasarnya untuk bisa memahami tentang suara Perkutut dituntut pula pemahaman tentang hidup yang selaras dan tenteram serta menjauhi semua kemungkinan persengketaan dengan siapapun termasuk dengan alam. Yang diinginkan adalah keindahan yang selaras sebagaimana kebanyakan orang Jawa berpandangan hidup. Seperti telah kami singgung bahwa dalam bahasa Jawa Kuno dikenal kata Kalangwan atau Kalangon yang artinya mempersembahkan keindahan. Dari akar kata Kalangon itulah muncul kata Klangenan yang barangkali artinya menangkap atau bergumul dengan keindahan. PERKUTUT PUTIH. Menurut wacana kejawen, perkutut putih dipercaya membawa kekuatan magis. RM Ng Prodjosudardjo yang paranormal menyebutkan sebagi burung siluman, jelmaan roh. Konon bisa membawa keberuntungan bagi yang memelihara, tak heran berung jenis ini tidak hanya diburu para hobi. tetapi juga mereka yang meyakini akan manfaat tuahnya Sayangnya perkutut putih amat sangat langka, jangankan yang sudah " kung " belum bisa apa pun asal seluruh bulunya warna putih orang sudah berani menawar dengan harga tinggi. Terlepas dari kata tidaknya, unsur magis menurut Ir. Suharno Budi Santosa, perkutut putih sebenarnya merupakan kasus penyimpangan gen. Ini kasus langka dalam khasanah perkutut. Prosentasenya sangat kecil dan belum tentu satu kasus dari seribu perkutut. Berdasarkan ciri fisik, akibat penyimpangan gen, perawakan maupun suara perkutut putih lebih jelek ketimbang perkutut biasa. Serba lebih kecil. Yang kata, perkutut putih tidak bisa ditangkarkan , karena rata-rata perkutut putih itu mandul. Mengamati kebiasaan serta perilakunyajenis perkutut ini , sebenarnya tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang mencolok dibanding perkutut normal. Sehingga kadang mengherankan, kenapa perkutut macam begini harganya bisa setinggi langit, bisa puluhan juta rupiah. Perkutut putih tidak setiap saat bisa didapat, di pasar burung trasional apalagi.!Begitu sulitnya mencari perkutut putih, sementara kenyataan permintaan pasar cukup tinggi, sering membuat orang berbuat curang, sehinga bagi pemula sulit membedakan perkutut putih asli dengan yang " sudah dipermak " Adapun sebagai acuan ciri ciri yang asli sbb: Paruhnya harus juga putih,namun agak kemerahan,kaki merah muda,bulu ekor bagian bawah walaupun segaris/se titik biasanya ada unsur warna coklat,demikian juga bulu sayap ada motif bintik bintik (blirik) transparan coklat kemerahan. Mlampahira mung sakmadya aloning nengga pradana sak eli elining toya netepi kuwajibanipun iguh pratikel ngemot budaya nyadong lan nyuwun pandongakna olehe kiyat amawa bea oleh ARIEF M.HUSEIN, S.H.

Senin, 06 Januari 2014

Menegaskan ‘Seni untuk Rakyat’

ak banyak yang tahu mengenai buku penting ini. Padahal, buku ini berusaha memberi jawaban atas salah satu polemik tua dalam sejarah umat manusia: hubungan seni dan politik. Perdebatan soal ini telah membela para seniman dan pendukungnya dalam dua kubu besar: ‘Seni untuk Seni’ versus “Seni untuk Rakyat”. Adalah Basuki Resobowo (BR), seorang maestro pelukis Indonesia, yang berusaha menjawab perdebatan itu dalam bukunya, “Bercermin Di Muka Kaca: Seniman, Seni, dan Masyarakat”. Diterbitkan oleh penerbit Ombak, pada tahun 2005, tetapi kurang meluas dan kurang diketahui banyak orang. Awalnya, BR berusaha memenuhi niatnya menulis. Akan tetapi, beberapa kali niatan itu kandas di tengah jalan. Namun, tiba-tiba sebuah kejadian memaksanya harus menulis dan menjelaskan posisi. Adalah kata-kata Sudjojono, kawan seperjuangannya, yang membuat BR sangat ‘terprovokasi, menulis: “Melukis dan politik adalah dua hal yang berlainan.” Bagi BR, kata-kata Sudjojono itu ibarat “petir di siang hari”. “Setelah membaca kata-kata Sudjojono saya menjadi kaget. Ia pisahkan seni dari politik atau seni dari revolusi,” kata BR (hal. 11). BR berusaha mengingat-ingat masa lalu, tepatnya tahun 1938, ketika Sudjono dan sejumlah pelukis progressif mendirikan organisasi bernama Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi). Saat itu, dalam kenangan BR, Sudjojono termasuk pencetus seni-rupa modern. Menurut Sudjojono, sebagai seorang seniman—sekaligus sebagai manusia Indonesia—karya seni haruslah bercorak Indonesia. Agar bisa bercorak Indonesia, maka seniman tidak boleh hidup terpisah dari rakyat. Sebab, keadaan rakyat-lah yang merupakan keadaan sesungguhnya. Karya seni pun haruslah bertolak pada keadaan rakyat itu. Inilah dasar realisme! Pemikiran Sudjojono tertancap kuat pada BR. BR masih mengingat pesan Sudjojono pada dirinya: “Bas, memang benar apa yang mereka (baca: pelarian Indonesia di Singapura) bilang. Apalagi kita sebagai seniman jangan sampai absen dan tidak ikut mengalami situasi politik yang penting dari sejarah bangsa Indonesia. Lingkungan dan masa memainkan peranan dalam terjadinya suatu karya seni, sekalipun bukan sebagai komponen yang menentukan.” (Hal. 16). BR adalah seorang marxis-tulen. Dengan demikian, cara pandangnya tentang seni pun sangat dipengaruhi marxisme. Basuki memahami cita-cita kesenian—tentu dalam cara pandang marxis—sebagai upaya membawa seni kepada paham estetika baru, yaitu melenyapkan selera borjuis yang dekaden, dan menghidupkan seni yang mengisi dan memperkaya unsur kerohanian pada golongan lebih luas pada masyarakat, yaitu massa rakyat. Inilah aliran “Seni untuk Rakyat”. (Hal. 22) Gerakan “Seni untuk Rakyat” makin menguat tatkala Sudjojono bersama seniman-seniman progressif lainnya mendirikan Seniman Indonesia Muda (SIM) pada tahun 1946. Organisasi ini, seperti diakui Basuki Resobowo, adalah embrio dari organisasi kesenian terbesar di tahun 1960an: Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra). Haluan “seni untuk Rakyat”, yang sudah menjiwai SIM, kemudian dikembangkan oleh Lekra menjadi gerakan “1-5-1”: politik sebagai panglima, meluas dan meninggi, tinggi mutu ideologi dan artistik, tradisi baik dan kekinian revolusioner, kreativitas individual dan kreativitas massa, realisme sosial dan romantik revolusioner, dan turun ke bawah (turba). Lukisan Telanjang Di buku kecil yang hanya 139 halaman ini, Basuki Resobowo juga berusaha menulis secerca kisah perjalanan hidupnya. Lalu, Hersri Setiawan berusaha meringkasnya lagi dalam artikel penutup berjudul “Sosok Basuki Resobowo”. Ia bercerita tentang lukisannya yang bergambar “wanita telanjang”. Basuki menuturkan, pada saat pameran lukisan pelukis SIM di Madiun, tahun 1947, lukisan tersebut diikutsertakan. Baru dua hari dipamerkan, lukisan itu sudah hilang. Rupanya, ada kelompok yang tak senang dengan lukisan itu. Dianggap merusak akhlak! Chairil Anwar, yang sempat melihat lukisan itu, mengaku terkesima. Penyair terkemuka Indonesia sampai berdiri 10 menit di depan lukisan itu. Bahkan, Ia sampai membuat puisi tentang lukisan itu: Surga. “Hebat kau, Bas, semua yang kau ceritakan ada di lukisan itu,” kata Chairil kepada Basuki. Bagi Basuki, lukisan telanjang itu merupakan bentuk “pendobrakan” terhadap kebudayaan Indonesia yang dekaden. Namun, ia mengatakan, lukisan telanjangnya berbeda dengan lukisan telanjang-nya Affandi. “Citranya bukan mendobrak budaya yang dekaden, melainkan media komunikasi high society di masyarakat eropa dan juga Indonesia,” kata Basuki. (Hal. 52) Tetap Teguh! Dalam buku itu, Basuki juga seakan menegaskan sikap politiknya tak pernah luntur: seorang marxis. Kendati, ia menerima pahit-ketir akibat pilihan politiknya itu dan membuatnya menjadi “emigran politik” di Eropa. Bahkan, ketika kawan seperjuangannya, Sudjojono, seakan berpindah-haluan, Basuki tetap memeluk erat keyakinan politiknya itu. Padahal, ia terkadang menyaksikan kisah pahit para imigran politik di luar negeri: frustasi, pertikaian, hingga perpecahan. Perjuangan memang tak mengenal kata akhir. Begitulah, pada tahun 1990-an, Basuki Resobowo masih terlibat dalam aksi politik menentang eksekusi 6 tapol PKI (Ruslan Wijayasastra dkk) di Indonesia dan berbagai aksi mendukung perjuangan anti-kediktatoran orde baru di tanah-airnya. Basuki dilahirkan di Baturaja, Palembang, Sumatera Selatan. Sebagai anak asuh seorang paman yang berpangkat “Wedana-polisi”, Basuki bisa mengenyam pendidikan di ELS (sekolah rendah anak-anak eropa). Pada tahun 1930-an, ia sempat ke jogja dan bersekolah di Taman Siswa. Tahun 1930-an itu, ia mulai mengenal dan berkenalan dengan Sudjojono. Sejak itu pula Basuki bertransformasi menjadi pelukis revolusioner. Menjelang pembacaan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Basuki menggelar “aksi corat-coret”: berita tentang kemerdekaan Indonesia. Ia terilhami oleh pelukis kiri Meksiko, Diego Rivera, yang membuat propaganda melalui mural di tembok-tembok. Basuki pun melakukannya pada trem dan kereta api ekspres Jakarta-Surabaya. Dengan demikian, sebelum proklamasi dibacakan oleh Bung Karno, sebagian rakyat sudah tahu Indonesia merdeka. Sumber Artikel: http://www.berdikarionline.com/suluh/20120611/memahami-seni-untuk-rakyat.html#ixzz2phI1XyxY Follow us: @berdikarionline on Twitter | berdikarionlinedotcom on Facebook Judul buku: Bercermin Di Muka Kaca: Seniman, Seni dan Masyarakat Penulis: Basuki Resobowo Penerbit: Ombak Cetakan: April 2005 Tebal: xxii + 139 halaman ISBN: 979-3472-18-9 Sumber Artikel: http://www.berdikarionline.com/suluh/20120611/memahami-seni-untuk-rakyat.html#ixzz2phIHazHm Follow us: @berdikarionline on Twitter | berdikarionlinedotcom on Facebook

seni reyog ""obyogan"", seni rakyat jelata

reyog ponorogo pada dasarnya adalah kesenian rakyat jelata yang dipertunjukkan dihadapan rakyat dengan format yang atraktif. Istilah ""obyogan"" sendiri terbentuk dari format pertunjukan reyog yang diarak keliling desa. Dalam kondisi tertentu seperti di perempatan atau rumah pamong desa berhenti untuk ""show up"" dihadapan masyarakat desa yang sudah menunggu. Tidak ada unsur magis dan kesurupan dalam pertunjukan ini, yang ada hanya tarian dan kekuatan fisik untuk mengangkat ""dadak merak"" yang beratnya lebih dari 60 kg yang diangkat dengan menggunakan gigi. Reyog obyogan ini diselenggarakan di desa Ngloning kecamatan Slahung Kabupaten Ponorogo Jawa timur sebagai hiburan rakyat untuk acara bersih desa yang diadakan pemerintah desa setempatwwwfotokita.net.

Rabu, 27 Februari 2013

Seni Tradisi Ditinggalkan Karena Dianggap Musyrik

Surakarta - Perkembangan seni tradisi mengalami hambatan serius dewasa ini. Secara perlahan, pelaku kesenian tradisi semakin langka sehingga seni tradisi terancam punah. Direktur Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasis Media dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Harry Waluyo, berpendapat, seni tradisi semakin ditinggalkan karena dianggap musyrik dan bidah. Sebab, seni tradisi biasanya berakar dari tradisi yang hidup di masyarakat. "Dan dalam perkembangannya, seni tradisi sangat erat dengan religi," ujarnya kepada wartawan seusai dialog seni tradisi di Surakarta, Ahad, 9 Desember 2012. Salah seorang pembicara, I Wayan Dibia, menilai seni tradisi ditinggalkan karena sering dianggap kuno dan usang. "Padahal ada inovasi dan kreasi baru dalam seni tradisi. Hanya tidak sedahsyat seni kontemporer," katanya. Dia mengatakan ada kesepakatan bahwa perubahan dalam seni tradisi tidak bisa frontal. Sebab, perubahan itu harus bisa diterima masyarakat luas. Harry mengatakan, apa pun yang terjadi, seni tradisi Indonesia harus terus eksis. Salah satu caranya dengan memanfaatkan teknologi. Nilai yang dikandung seni tradisi tetap dipertahankan, tetapi kemasannya dibantu teknologi agar lebih menarik. "Lalu sebisa mungkin memanfaatkan ruang publik untuk mementaskan seni tradisi. Tidak hanya secara fisik, tapi juga ruang publik di dunia maya," katanya. Wayan Dibia menekankan perubahan cara pandang generasi muda terhadap seni tradisi. Generasi muda harus ditanamkan bahwa jika ingin menjadi orang modern, terlebih dahulu harus memperkuat seni tradisi. Seni tradisi menjadi dasar dari pengembangan seni modern. "Kalau tidak punya dasar, seni modern yang dihasilkan tidak punya identitas dan jati diri," tutur Wayan Dibia, yang juga Rektor Institut Seni Indonesia Denpasar. Upaya tersebut bisa dimulai dengan memperbanyak penulisan tentang seni tradisi. Jadi generasi muda sadar bahwa Indonesia adalah negara adibudaya. Direktur Pengembangan Seni Pertunjukan dan Industri Musik Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Juju Masunah, mengatakan, seni tradisi dapat terus tumbuh karena sudah bertransformasi menjadi industri kreatif. Menurut dia, saat ini seniman seni tradisi memproduksi produk atau karya untuk dijual ke wisatawan. "Akhirnya terjadilah perkawinan antara seni tradisi dan ekonomi kreatif," katanya dalam kesempatan yang sama. Untuk mengembangkan potensi seni daerah, pihaknya menyelenggarakan pergelaran mahakarya seni tradisi di Institut Seni Indonesia Surakarta pada Ahad malam ini. Dalam pergelaran akan ditampilkan Tari Bedhaya Bedah Madiun dari Jawa Tengah, Tari Srimpi Renggowati dari Daerah Istimewa Yogyakarta, Tari Piriang di Ateh Kato dari Padang, Tari Topeng Adiningrum dari Cirebon, Tari Baris Gede dari Bali, dan Tari Pakarena dari Makassar.TEMPO.CO,

Senin, 04 Juni 2012

Indonesian Dance Festival: Festival Tari Bertaraf Internasional

Bagai disergap kesunyian saat tari Bedhaya Diradameto membuka pertunjukan malam itu. Bedhaya Diradameto merupakan tari yang sudah berusia hampir 100 tahun, bagian dari seni tari Keraton Mangkunegaran Surakarta, dan tidak pernah dipentaskan ke hadapan publik sebelumnya. Tariannya mengisahkan pertempuran penuh keberanian Pangeran Sambernyawa dengan tentara VOC di Sitakepyak, selatan Rembang. Selain itu ada pula koreografer Belanda, Gerard Mosterd, ikut mementaskan karyanya dalam libreto berjudul L'Historie du Soldat, yang dibawakan secara jenaka. Melibatkan penari Eko Supriyanto, Martinus Miroto, Sri Qadariatin, dan narator Jamaluddin Latif. Indonesia Dance Festival (IDF) memasuki tahun penyelenggaraan kesebelas. Sebagai sebuah festival tari berskala internasional, IDF hendak merangkul masyarakat tari Indonesia, baik penari tradisional maupun kontemporer. Tahun ini yang diusung adalah Indonesia Menari. Selama sembilan hari ke depan IDF akan mementaskan karya para penata tari yang antara lain asal Indonesia, Jepang, Korea, Jerman, Aljazair, Taiwan, Finlandia, Inggris, Perancis, Tunisia, Belgia, dan Kamboja. Gelaran pentas direncanakan setiap hari di berbagai tempat yang berbeda, yakni Taman Ismail Marzuki, Gedung Kesenian Jakarta, dan Institut Kesenian Jakarta. Sementara sejumlah acara dalam rangka IDF telah digelar sejak bulan Februari lalu. Rangkaian kegiatan itu seperti seminar tari, lomba tari, dan bengkel kerja koreografi. Gerakan Indonesia Menari ini diusung oleh Djarum Apresiasi Budaya, Indonesian Dance Festival (IDF), Dinas Kebudayaan dan Pariwisata DKI Jakarta, serta Ikatan Abang None Jakarta (IANTA). Tujuannya untuk menarik masyarakat Indonesia kembali mencintai budaya tari yang hampir dilupakan oleh masyarakat. "Menari adalah pesan yang ingin disampaikan sepanjang rangkaian acara ini. Sebab tarian selalu identik dengan kegembiraan, keluwesan, dan harmonisasi. Menari sama seperti mengajak semua warga untuk kreatif membangun bangsa karena keluwesan tak hanya diciptakan oleh gerakan tubuh tapi juga pola pikir," tutur Maria Darmaningsih, Direktur IDF. Ia menambahkan, tarian mengasah kepekaan insan dalam merayakan kehidupan. Bila rasa peka itu hilang, kita juga kehilangan empati kepada lingkungan sekitar kita. (Gloria Samantha. Sumber: Kompas)

Selasa, 27 Maret 2012

Budaya Tasikmalaya



Kampung Naga merupakan perkampungan tradisional dengan luas areal kurang lebih 4 ha. Lokasi obyek wisata Kampung Naga terletak pada ruas jalan raya yang menghubungkan Tasikmalaya – Bandung melalui Garut, yaitu kurang lebih pada kilometer ke 30 ke arah Barat kota Tasikmalaya.

Kampung Naga dihuni oleh sekelompok masyarakat yang sangat kuat dalam memegang adat istiadat peninggalan Ieluhumya. Hal ini akan terlihat jelas perbedaannya bila dibandingkan dengan masyarakat lain di luar Kampung Naga. Masyarakat Kampung Naga hidup pada suatu tatanan yang dikondisikan dalam suasana kesahajaan dan lingkungan kearifan tradisional yang lekat.

Secara administratif Kampung Naga termasuk kampung Legok Dage Desa Neglasari Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya.
Jarak tempuh dari Kota Tasikmalaya ke Kampung Naga kurang lebih 30 kilometer, sedangkan dari Kota Garut jaraknya 26 kilometer.
Untuk menuju Kampung Naga dari arah jalan raya Garut-Tasikmalaya harus menuruni tangga yang sudah ditembok (Sunda sengked) sampai ke tepi sungai Ciwulan dengan kemiringan sekitar 45 derajat dengan jarak kira-kira 500 meter. Kemudian melalui jalan setapak menyusuri sungai Ciwulan sampai ke dalam Kampung Naga. Menurut data dari Desa Neglasari, bentuk permukaan tanah di Kampung Naga berupa perbukitan dengan produktivitas tanah bisa dikatakan subur.

tasikkk

(naga vilage)

Luas tanah Kampung Naga yang ada seluas satu hektar setengah, sebagian besar digunakan untuk perumahan, pekarangan, kolam, dan selebihnya digunakan untuk pertanian sawah yang dipanen satu tahun dua kali.

Daya tarik obyek wisata Kampung Naga terletak pada kehidupan yang unik dari komunitas yang terletak di Kampung Naga tersebut. Kehidupan mereka dapat berbaur dengan masyrakat modern, beragama Islam, tetapi masih kuat memlihara Adat Istiadat leluhurnya. Seperti berbagai upacara adat, upacara hari-hari besr Islam misalnya Upacara bulan Mulud atau Alif dengan melaksanakan Pedaran (pembacaan Sejarah Nenek Moyang) Proses ini dimulai dengan mandi di Sungai Ciwulan dan Wisatawan boleh mengikuti acara tersebut dengan syarat harus patuh pada aturan disana.

Bentuk bangunan di Kampung Naga sama baik rumah, mesjid, patemon (balai pertemuan) dan lumbung padi. Atapnya terbuat dari daun rumbia, daun kelapa, atau injuk sebagi penutup bumbungan. Dinding rumah dan bangunan lainnya, terbuat dari anyaman bambu (bilik). Sementara itu pintu bangunan terbuat dari serat rotan dan semua bangunan menghadap Utara atau Selatan. Selain itu tumpukan batu yang tersusun rapi dengan tata letak dan bahan alami merupakan ciri khas gara arsitektur dan ornamen Perkampungan Naga.

OBYEK WISATA

Obyek wisata ini merupakan salah satu obyek wisata budaya di Tasikmlaya Wisatawan biasanya memiliki minat khusus yaitu ingin mengetahui dan membuktikan secara nyata keadaan tesebut. Pengembangan obyek wisata Kampung Naga termasuk dalam jangkuan pengembangan jangka pendek.


SEJARAH

Sejarah/asal usul Kampung Naga menurut salah satu versi nya bermula pada masa kewalian Syeh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, seorang abdinya yang bernama Singaparana ditugasi untuk menyebarkan agama Islam ke sebelah Barat. Kemudian ia sampai ke daerah Neglasari yang sekarang menjadi Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Di tempat tersebut, Singaparana oleh masyarakat Kampung Naga disebut Sembah Dalem Singaparana. Suatu hari ia mendapat ilapat atau petunjuk harus bersemedi. Dalam persemediannya Singaparana mendapat petunjuk, bahwa ia harus mendiami satu tempat yang sekarang disebut Kampung Naga.

Nenek moyang Kampung Naga yang paling berpengaruh dan berperan bagi masyarakat Kampung Naga “Sa Naga” yaitu Eyang Singaparana atau Sembah Dalem Singaparana yang disebut lagi dengan Eyang Galunggung, dimakamkan di sebelah Barat Kampung Naga. Makam ini dianggap oleh masyarakat Kampung Naga sebagai makam keramat yang selalu diziarahi pada saat diadakan upacara adat bagi semua keturunannya.

Namun kapan Eyang Singaparana meninggal, tidak diperoleh data yang pasti bahkan tidak seorang pun warga Kampung Naga yang mengetahuinya. Menurut kepercayaan yang mereka warisi secara turun temurun, nenek moyang masyarakat Kampung Naga tidak meninggal dunia melainkan raib tanpa meninggalkan jasad. Dan di tempat itulah masyarakat Kampung Naga menganggapnya sebagai makam, dengan memberikan tanda atau petunjuk kepada keturunan Masyarakat Kampung Naga.

Ada sejumlah nama para leluhur masyarakat Kampung Naga yang dihormati seperti: Pangeran Kudratullah, dimakamkan di Gadog Kabupaten Garut, seorang yang dipandang sangat menguasai pengetahuan Agama Islam. Raden Kagok Katalayah Nu Lencing Sang Seda Sakti, dimakamkan di Taraju, Kabupaten Tasikmalaya yang mengusai ilmu kekebalan “kewedukan”. Ratu Ineng Kudratullah atau disebut Eyang Mudik Batara Karang, dimakamkan di Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya, menguasai ilmu kekuatan fisik “kabedasan”. Pangeran Mangkubawang, dimakamkan di Mataram Yogyakarta menguasai ilmu kepandaian yang bersifat kedunawian atau kekayaan. Sunan Gunungjati Kalijaga, dimakamkan di Cirebon menguasai ilmu pengetahuan mengenai bidang pertanian.

Sumber : www.tasikmalaya.go.id, dieny-yusuf.com, www.westjava-indonesia.com

Rabu, 22 Februari 2012

Tari Hudoq dari Kalimantan Timur

Tari Hudoq adalah bagian ritual suku Dayak Bahau dan Dayak Modang, yang biasa dilakukan setiap selesai manugal atau menanam padi, pada bulan September – Oktober. Semua gerakannya, konon dipercaya turun dari kahyangan. Berdasarkan kepercayaan suku Dayak Bahau dan Dayak Modang, Tari Hudoq ini digelar untuk mengenang jasa para leluhur mereka yang berada di alam nirwana. Mereka meyakini di saat musim tanam tiba roh-roh nenek moyang akan selalu berada di sekeliling mereka untuk membimbing dan mengawasi anak cucunya. Leluhur mereka ini berasal dari Asung Luhung atau Ibu Besar yang diturunkan dari langit di kawasan hulu Sungai Mahakam Apo Kayan. Asung Luhung memiliki kemampuan setingkat dewa yang bisa memanggil roh baik maupun roh jahat. Oleh Asung Luhung, roh-roh yang dijuluki Jeliwan Tok Hudoq itu ditugaskan untuk menemui manusia. Namun karena wujudnya yang menyeramkan mereka diperintahkan untuk mengenakan baju samaran manusia setengah burung. Para Hudoq itu datang membawa kabar kebaikan. Mereka berdialog dengan manusia sambil memberikan berbagai macam benih dan tanaman obat-obatan sesuai pesan yang diberikan oleh Asung Luhung. Dari kisah itulah, nama Hudoq melekat di masyarakat Dayak Bahau dan Modang. Tarian ini dilakukan erat hubungannya dengan upacara keagamaan, dengan maksud untuk memperoleh kekuatan mengatasi gangguan hama perusak tanaman dan mengharapkan diberikan kesuburan dengan hasil panen yang banyak. Para penari Hudoq ini biasanya berjumlah 13 orang yang melambangkan 13 dewa pelindung dewa Hunyang Tenangan, dewa yang memelihara tanaman padi. Di sela-sela kerimbunan semak belukar dan pepohonan mereka mulai mengenakan kostum yang terbuat dari daun pisang hingga menutupi mata kaki dan topeng kayu yang menyerupai binatang buas. Daun pisang adalah lambang kesejukan dan kesejahteraan. Sementara itu, warna pada Topeng Hudoq, biasanya didominasi oleh warna merah dan kuning, yang dipercaya sebagai warna kesukaan para dewa. Topeng warna merah ini merupakan gambaran perwujudan dewa Hunyang Tenangan. Sebelum tarian Hudoq dimulai, terlebih dahulu digelar ritual Napoq. Napoq adalah prosesi sakral yang wajib dilakukan setiap kali hendak menyelenggarakan Hudoq. Ritual ini dipimpin oleh seorang Dayung yakni orang yang memiliki kemampuan supranatural untuk berkomunikasi langsung dengan para Hudoq. Dengan didampingi dua asistennya, Dayung berkeliling kampung sambil membunyikan mebang atau gong kecil. Yang berfungsi sebagai alat komunikasi penyapaan kepada para roh-roh penjaga desa, bahwa Napoq sedang dilakukan. Selanjutnya, Dayung akan memanggil dan meminta kepada penguasa alam semesta yang memiliki empat sapaan yakni Tasao, Tuhan Pencipta; Tanyie', Tuhan Penjaga; Tawe'a, Tuhan Penuntun dan Tagean, Tuhan Yang Berkuasa; agar penyelenggaraan hudoq dapat berjalan aman dan lancar. Kemudian, para Hudoq dijamu makan siang oleh sang Dayung, dengan cara menyuapi para penari yang telah dirasuki titisan dewa yang mengenakan topeng Hudoq. Setelah makan siang, Dayung pun melakukan komunikasi dengan para Hudoq, yang disebut dengan Tengaran Hudoq. Komunikasi ini, menggunakan bahasa Dayak yang santun dan halus, yang hanya bisa diterjemahkan oleh sang Dayung. Dari komunikasi ini, biasanya diketahui kelanjutan hasil bercocok tanam, apakah panennya berhasil atau tidak. Dayung pun meminta, agar para Hudoq melindungi tanaman mereka dari serangan hama. Kemudian, ritual dilanjutkan dengan kegiatan ugaaitan atau menarik nyawa padi. Dalam ritual ini, para Hudoq berbaris sejajar, yang urutannya disesuaikan dengan kelas sosial para dewa. Para dewa dengan kelas sosial tertinggi berada di barisan terdepan. Sambil membaca mantera, para Hudog menarik nyawa padi sebanyak tujuh kali. Tari Hudoq biasanya digelar di tengah lapangan atau sawah yang akan ditanami. Dengan ritme cukup tinggi, para penari Hudoq melakukan gerakan Nyidok atau Nyebit yaitu gerakan maju sambil menghentak kaki. Disusul dengan gerakan Ngedok atau Nyigung yaitu menghentak¬kan kaki dengan tumit diiringi gerakan tangan yang mengibas-ngibas layaknya gerakan sayap seekor burung yang sedang terbang. Gerakan ini bermakna untuk mengusir hama penyakit agar tidak menyerang tanaman padi. Secara umum, gerakan tarian ini mengandung makna memutar ke kiri untuk membuang sial dan memutar ke kanan untuk mengambil kebaikan.



Sumber Asli : http://dunialain-laindunia.blogspot.com/2009/04/tari-hudoq-dari-kalimantan-timur.html
Copyright dunialain-laindunia.blogspot.com |