Cari Artikel Lainnya

Senin, 15 Agustus 2011

Ul-Daul; Musik Tradisi Madura yang Fenomenal


Oleh Syaf Anton Wr

Musik Ul-daul, bagi masyarakat Madura, merupakan fenomena seni (musik) tradisi yang mulai banyak diminati masyarakat. Un-daul, pada prinsipnya sebagai musik perkusi yang tidak banyak membutuhkan pengalaman musik dalam memainkannya. Fenomena Un-daul sebenarnya merupakan pengembangan musik Tong-tong, yang sejak awal menjadi musik yang berciri khas Madura yang dimainkan dengan pukulan monoton namun melahirkan irama dinamis sebagaimana musik-musik perkusi umumnya.

Sebagai musik. Tong-tong, membuhkan alat-alat sederhana yang didapat disekitar masyarakat yang semuanya terbuat dari bambu. Ada beberapa jenis ukuran yang terbuat dari potongan bambu; dari mulai ukuran besar panjang sekitar setengah sampai satu meter dengan diameter 40 – 50 cm, yang akan melahirnya bunyi besar. Sedangkan ukuran berikutnya, makin mengecil sesuai dengan kebutuhan irama. Ketika ditabuh (dipukul dengan potongan kayu), masing-masing penabuh memiliki pukul statis/monoton, namun keberagaman jenis dan ukuran yang beda akhirnya menjadi irama harmonis dan indah. Musik Tong-tong, (kerap disebu untuk wilayah Kabupaten Sumenep, pernah dikembangkan menjadi musik “Ghursah”, yaitu musik ini dikembangkan sebagai bentuk pengiring lagu-lagu, yang umumnya lagu-lagu Madura oleh penyanyinya, dengan tetap mepertahankan musik perkusi. Namun dalam musik Ghursah dibengkan dengan alat-alat musik lebih besar, bukan saja terbuat dari bambu, tapi juga terbuat dari balok kayu. Tong-tong atau ghursah kerap disebut, dhung-dhung, bung-bung, dan sebutan lainnya.
Musik Ghursah ini, spesifikasinya ditampilkan dalam penampilan terbuka sebagai tontonan umum. Bahkan untuk acara hajat perkawinan, maupun acara-acara penyambutan tamu; tamu kunjungan maupun tamu wisata. Tapi disayangkan, musik Ghursah ini hilang begitu saja. Ul-daul, Pengembang Musik Tong-tong. Sebagaimana musik Tong-tong, Ul-daulpun awal pengembangannya diperagakan sebagai musik patrol sahur, namun dalam perkembangannya musik Tong-tong kurang diminati, lantaran – barangkali – alat-alat musik lain mulai dipegunakan para patroli sahur. Bahkan bukan alat-alat musik yang mulai terjadi perubahan, alat suara (sound system) jauh lebuih praktis dan nyaring dimanfaatkan kelompok patrol ini berkeling kampung. Dari sinilah tradisi patrol sahur dalam bulan Ramadlan semakin langka./ul>

Entah bagaimana awalnya, tampaknya ada kesepakatan tidak tertulis dari pelaku patrol sahur. Barangkali mereka (patroli sahur) termotivasi fenomena musik di Indonesia, sehingga musik Tong-tong dikembangkan lagi menjadi lebih proporsional. Alat-alat musik tidak ada bedanya dengan alat musik sebelumnya, namun disini dilengkapi intrumen baru, meski sangat sederhana. Contoh misal, untuk melahirkan irama melodi mereka gunakan alat musik gamelan peking, atau untuk tambur, mereka galon minuman mineral untuk melahirkan bunyi bas, dan lainnya.sampangweb.id

Minggu, 14 Agustus 2011

MUSIK BAMBU HITADA & MUSIK YANGER


Kesenian Tradisional orang Halmahera
by ANTO LATIF DOA
Narasi oleh : Busranto Latif Doa
Sumber Foto : Jepret Sendiri

Setiap masyarakat daerah manapun di setiap bangsa pasti memiliki suatu bentuk kesenian tradisional-nya masing-masing. Menurut Prof. DR. Kuntjaraningrat dalam buku “Pengantar Antropologi” mengatakan bahwa pokok-pokok Etnologi yang bersifat Universal dalam setiap Kebudayaan, meliputi 7 (tujuh) aspek, antara lain; Sistem peralatan hidup atau teknologi, Sistem Mata pencaharian hidup, Sistem kemasyarakatan, Sistem Pengetahuan, Bahasa, Kesenian, dan Religi.
Di Maluku Utara, pohon bambu selain dimanfaatkan sebagai bahan baku peralatan dalam kebutuhan seperti; pembuatan rumah, pagar, tiang, dipan, rakit sungai, dll, juga dimanfaatkan sebagai “alat musik” yang dikenal dengan “Musik Bambu Hitada“. Selain itu bambu dipakai sebagai alat utama untuk permainan “Bambu Gila” yang dalam bahasa Ternate disebut permainan “Baramasuwen” (akan dibahas pada artikel berikut).

Sebagian masyarakat di pulau Halmahera provinsi Maluku Utara terutama di kecamatan Ibu, Sahu dan Jailolo, termasuk orang Tobelo di Halmahera utara hingga kini masih mempertahankan jenis kesenian tradisional ini. Seni Musik Bambu ini mereka sebut dengan “Musik Bambu Hitada” atau sering disebut juga “Hitadi”. Sedangkan jenis musik tradisional yang lain yang tidak menggunakan bambu dikenal dengan “Musik Yanger”.
Musik Bambu Hitada dan Yanger ini biasanya dimainkan pada acara-acara tertentu, seperti; Hajatan Perkawinan, Pesta Rakyat atau Hajatan Syukuran di suatu kampung. Musik tradisional ini biasanya dimainkan secara bersama-sama oleh beberapa orang dalam ikatan “Group”. Sebuah group musik beranggotakan 5 hingga 13 orang.

Sampel Group Musik yang saya ambil dalam ilustrasi gambar di blog ini adalah Group Musik Yanger ; “RIO DANO GROUP” asal Desa TABAOL dari Kecamatan IBU di pulau Halmahera. Gambar ini saya ambil di Ternate pada bulan Agustus 2008 ketika mereka sedang latihan untuk rekaman VCD komersil yang nanti akan diproduksi oleh “Bela-Dila Studio – Ternate” pada awal tahun 2009 ini juga. Begitu kata Produser “A. Rahman Sidi Umar, Boss Bela-Dila Studio, ketika saya konfirmasi di rumahnya di Ternate.

Alat musik utama pada musik Bambu Hitada adalah batangan bambu itu sendiri, yang biasanya hanya terdiri dari 2 ruas saja dan panjangnya tidak lebih dari 1,75 m. Biasanya batang bambu ini sudah sudah dilobangi sesuai nada tone, dan dicat warna-warni untuk membuat tampilan bambu menjadi lebih indah.
Batang bambu dibunyikan dengan cara dibanting tegak lurus di tanah atau bila di atas ubin harus dialas dengan karung goni. Selain itu ada juga alat musik “Cikir” yang terbuat dari batok buah kelapa yang masih utuh dan diisi dengan beberapa butir kerikil bulat atau biji kacang hijau kering.

Selain itu dibutuhkan beberapa buah gitar kecil buatan sendiri yang disebut “Juk” serta satu atau dua buah Biola tradisional. Kedua alat ini biasanya dicat dengan warna-warni yang kontras untuk keindahan. Alat-alat musik ini dimainkan secara bersama-sama, sehingga menghasilkan satu irama musik yang enak didengar. Pada musik Bambu Hitada lebih membutuhkan banyak personil untuk memainkannya, karena setiap orang hanya memegang dua batang bambu yang hanya memiliki nada satu tone saja.

Setiap musik yang dimainkan biasanya mengiringi dua orang vokalis atau lebih yang menyanyikan sebuah lagu tradisional. Seperti biasanya orang menyanyi, pada musik tradisional orang Halmahera ini, durasinya antara 5 hingga 10 menit per lagu. Satu hal yang perlu diketahui bahwa, semua personil group musik ini, biasanya adalah kaum laki-laki. Jarang terlihat kaum wanita bergabung dalam group musik tradisional ini, kalaupun ada paling berperan sebagai vokalis saja.
Sedangkan pada musik Yanger, alat-alat musik yang digunakan terdiri dari Gitar kecil (Juk) dan Gitar sedang buatan sendiri, satu atau dua buah Biola kecil, sebuah Biola besar, sebuah “Petibass” (Tali Satu), dan sebuah Cikir. Kedua Biola ini dimainkan sebagai intro “suara satu” & “suara dua”. Sedangkan Petibass berperan sebagai bass musik, karena terbuat dari peti triplek yang berfungsi seperti gitar bass pada musik elektrik modern. Petibass ini biasanya disebut dengan “tali satu” karena hanya memiliki satu tali petik saja.

Satu hal lagi yang agak unik dalam musik adalah; Biola Besar yang memiliki dua tali senar yang dimainkan pada musik Yanger ini tidak digesek atau dipetik melainkan dipukul dengan menggunakan sebatang lidi sebesar jari tangan yang panjangnya sekitar 30 cm. (lihat gambar). Pada jenis Musik Bambu Hitada, Petibass Tali Satu dan Biola Besar ini tidak digunakan sama sekali, karena tone bass sudah diperankan oleh batang bambu yang besar dan agak panjang.
Perlu dicatat bahwa kedua jenis musik ini sama sekali tidak menggunakan aliran listrik ataupun Sound System, semua serba alami dan bisa dimainkan di daerah pedalaman yang tanpa listrik sekalipun. Menarik bukan…?! Soalnya saya sudah pernah mendengar dan menyaksikan langsung. (nanti akan saya upload clip-nya di You Tube).
Demikian deskripsi saya tentang salah satu jenis kesenian tradisional masyarakat di daerah ini. Semoga Pemda setempat, terutama Instansi terkait agar punya kepedulian atas asset budaya masyarakat khususnya jenis “Musik Bambu Hitada” dan “Musik Yanger” di pulau Halmahera yang semakin terkikis oleh kehadiran jenis-jenis musik modern yang serba elektrik dan digital.
Saya pribadi turut membangun aspek pariwisata daerah ini dengan cara saya, yakni memperkenalkan (promosikan) Kesenian Tradisional ini di dunia Internet. Harapan saya semoga tradisi ini menambah asset nilai jual pariwisata Maluku Utara. Insya Allah….!

sumber:
www.busranto.blogspot.com dan
www.ternate.wordpress.com

Kamis, 11 Agustus 2011

Tari Tradisional Indonesia




Tarian Daerah Indonesia dengan beraneka ragam jenis tarian indonesia seni tari membuat indonesia kaya akan adat kebudayaan kesenian. Dengan mengenal lebih banyak Tarian adat di seluruh provinsi di indonesia mudah – mudahan membuat kita lebih mencintai negeri kita ini. Contoh macam macam tarian daerah indonesia yang akan di sajikan di bawah ini bisa di jadikan referensi buat kamu yang sedang mengumpulkan informasi mengenai macam-macam seni tari di seluruh provinsi indonesia bisa untuk contoh makalah atau contoh laporan atau bisa juga untuk bahan pidato yang di susun berdasarkan abjad.

Tarian Daerah Provinsi Bali
1. Tari Kecak
2. Tari Legong
3. Tari Barongan
4. Tari Pendet

Tarian Daerah Banten
1. Tari Prajurit

Tarian Daerah Provinsi Bengkulu
1. Tari Andun
2. Tari Bidadari Terminang Anak
3. Tari Ganau

Tarian Daerah Provinsi DI Aceh
1. Tari Saman
2. Tari Seudati

Tarian Daerah Propinsi DI Yogyakarta
1. Tari Bedaya Pangkur
2. Tari Serimpi

Tarian Daerah Gorontalo
1. Tari Dana-Dana

Tarian Daerah DKI Jakarta
1. Tari Betawi
2. Tari Yapong

Tarian Daerah Jambi
1. Tari Sekapur Sirih
2. Tari Selampir Delapan

Tarian Daerah Provinsi Jawa Barat
1. Tari Jaipong
2. Tari Topeng

Tarian Daerah Provinsi Jawa Tengah
1. Tari Bambang Cakil
2. Tari Sintren

Tarian Daerah Provinsi Jawa Timur
1. Tari Gandrung Banyuwangi
2. Tari Remo
3. Tari Reog Ponorogo

Tarian Daerah Provinsi Kalimantan Barat
1. Tari Monong
2. Tari Zapin

Tarian Daerah Provinsi Kalimantan Selatan
1. Tari Babujugan
2. Tari Radap Rahayu

Tarian Daerah Provinsi Kalimantan Tengah
1. Tari Dadas dan Bawo
2. Tari Giring-Giring

Tarian Daerah Provinsi Kalimantan Timur
1. Tari Gong

Tarian Daerah Kepulauan Riau
1. Tari Tandak,
2. Tori Joged Lambak

Tarian Daerah Propinsi Lampung
1. Tari Bedana
2. Tari Jangget
3. Tari Malinting

Tarian Daerah Propinsi Maluku
1. Tari Cakalele
2. Tari Lenso
3. Tari Nahar Iaa
4. Tari Perang
5. Tari Tidetide

Tarian Daerah Propinsi Nusa Tenggara Barat
1. Tari Batu Nganga
2. Tari Mpaa Lenggogo

Tarian Daerah Propinsi Nusa Tenggara Barat
1. Tari Batu Nganga
2. Tari Mpaa Lenggogo

Tarian Daerah Propinsi Nusa Tenggara Timur
1. Tari Gareng Lameng
2. Tari Perang

Tarian Daerah Propinsi Papua
1. Tari Musyoh
2. Tari Selamat Datang
3. Tari Sojojo Papua
4. Tari Papua
5. Tari Perang
6. Tari Suanggi

Tarian Daerah Propinsi Sulawesi Selatan
1. Tari Bosara
2. Tari Kipas
3. Tari Pakarena

Tarian Daerah Propinsi Sulawesi Tengah
1. Tari patuddu
2. Tari Dero Poso
3. Tari Lumense admin
4. Tari Pamonte admin
5. Tari Peule Cinde
6. Tari Torompio

Tarian Daerah Propinsi Sulawesi Tenggara
1. Tari Balumpa
2. Tari Dinggu
3. Tari Lumense
4. Tari Manguru

Tarian Daerah Propinsi Sulawesi Utara
1. Tari Katrili
2. Tari Maengket
3. Tari Polo-Palo

Tarian Daerah Propinsi Sumatra Barat
1. Tari Lilin
2. Tari Payung
3. Tari Piring

Tarian Daerah Propinsi Sumatra Selatan
1. Tari Gending Sriwijaya
2. Tari Putri Bekhusek
3. Tari Tanggai

Tarian Daerah Propinsi Sumatra Utara
1. Tari Serampang Dua Belas
2. Tari Tor Tor

Minggu, 07 Agustus 2011

Gondang


Terminologi “GONDANG” dalam bahasa Mandailing mengandung beberapa pengertian yaitu: alat musik, gabungan dari sejumlah alat musik (ensambel), nama lagu atau repertoar, irama atau ritmik, jenis musik tertentu, dan sebagai musik itu sendiri. Sehubungan dengan itulah situs ini diberi nama Gondang yang isinya memuat informasi tentang seni dan budaya suku-bangsa Mandailing.

Suku-bangsa Mandailing bermukim di pedalaman pesisir pantai barat daya pulau Sumatra dan wilayah pemukiman mereka itu dikenal dengan berbagai nama sebutan yaitu Tano Sere, Tano Rura, Luat Mandailing atau Banua Mandailing yang memiliki batas-batas wilayah tertentu. Secara tradisional orang Mandailing membagi wilayah pemukiman mereka menjadi dua bahagian utama yaitu Mandailing Godang dan Mandailing Julu. Sebelum proklamasi kemerdekaan negara Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, wilayah Mandailing Godang berada dibawah kekuasaan raja-raja bermarga Nasution,

sedangkan wilayah Mandailing Julu dikuasai dan diperintah oleh raja-raja bermarga Lubis. Di samping marga Lubis dan Nasution terdapat pula marga-marga lainnya seperti Pulungan, Rangkuti, Daulae, Hasibuan, Parinduri, Batubara, Dalimunte, dan sebagainya.
Di sebelah utara, Mandailing berbatas dengan Angkola yang perbatasannya terletak di suatu tempat bernama Simarongit di Desa Sihepeng. Sedangkan perbatasannya dengan Padang Bolak berada di suatu tempat bernama Rudang Sinabur. Di sebelah barat Mandailing terletak wilayah Natal yang perbatasannya terletak di suatu tempat bernama Lingga Bayu. Sebelah selatan wilayah Mandailing berbatas dengan Pasaman (Sumatera Barat) yang perbatasannya terletak di suatu tempat bernama Ranjo Batu. Namun batas wilayah Mandailing dengan wilayah sebelah timur tidak diketahui karena tidak pernah disebut-sebut orang.
Seperti halnya suku-suku bangsa lain di Nusantara, orang Mandailing juga memiliki aneka ragam musik tradisional yang keadaannya sangat memprihatinkan di era

globalisasi ini karena semuanya sudah berada di ambang kepunahan.
Adapun alat-alat musik tradisional Mandailing dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Membranofon : gordang sambilan dan gondang dua
Aerofon : suling, salung, sordam, tulila, katoid, saleot, dan uyup-uyup
Metalofon : ogung, momongan, doal, dan talisasayat
Idiofon : etek, dongung-dongung, pior, gondang aek dan eor-eor
Kordofon : gordang tano dan gondang bulu
Repertoar musik tradisional Mandailing
Gondang

1 Jolo-jolo Turun; 2 Alap-alap Tondi; 3 Moncak (Kutindik); 4 Raja-raja; 5 Ideng-ideng; 6 Tua; 7 Sampuara Batu Magulang; 8 Roba Na Mosok; 9 Mandailing; 10 Pamulihon; 11 Udan Potir; 12 Porang; 13 Sarama Datu; 14 Sarama Babiat; 15 Lima; 16 Roto; 17 Sampedang; 18 Aek Magodang (Touk); 19 Mamele Begu; 20 Tortor.
Ende (Nyanyian)

1 Ungut-ungut; 2 Sitogol; 3 Jeir; 4 Bue-bue.
Ende-ende (Pantun, sastra lama)
Turi-turian (Cerita Bertutur)
1 Raja Gorga di Langit; 2 Nan Sondang Milong-ilong; 3 dan lain-lain.
Logu (Leitmotivic)
1 Uyup-uyup; 2 opat-opat; 3 Ende Panjang; 4 dan lain-lain.
sumber: www.edinasution.wordpress.com