Cari Artikel Lainnya

Minggu, 18 Januari 2009

Musik Kolintang


Luar Negeri Mengagumi
Harmoni Musik Pukul Kayu
Bila kita menyebut wilayah Sulawesi Utara, banyak orang mungkin hanya mengetahui tentang wisata laut yang indah di Bunaken. Atau bubur Manado, makanan khas yang sudah merambah ke seluruh wilayah Indonesia.
Tapi mungkin banyak orang yang lupa atau tidak memperhatikan lagi tentang alat musik khas Sulawesi Utara yakni Kolintang. Alat musik dari kayu lokal yang ringan namun kuat ini aslinya berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara, dan sudah dikenal sejak puluhan tahun silam.

Permainan musik Kolintang bukanlan bersifat individual. Alat musik ini minimal harus dimainkan oleh enam orang dengan fungsi masing-masing. Misalnya memegang melodi, gitar, ukulele, banjo, dan bas.
Sejarahnya, alat musik ini ditemukan oleh seorang pria asal Minahasa yang bernama Lintang. Nama kolintang berasal dari suara tong (nada rendah), ting (nada tinggi), dan tang (nada biasa).
Kolintang biasa dimainkan untuk mengisi berbagai acara, seperti pesta pernikahan, penyambutan, peresmian, pengucapan syukur, keagamaan, dan pada acara pertandingan. Hingga kini, masih banyak pewaris-pewaris budaya yang terus melestarikan Kolintang. Bahkan hingga ke sekolah-sekolah, banyak dipelajari cara memainkan alat musik Kolintang.
Masih banyak perajin alat musik Kolintang di Sulut, bahkan asli orang Sulut yang sudah bermukim di daerah lain. Untuk membuat Kolintang, kita harus mengenali jenis kayu dan menentukan kayu tertentu untuk not atau tangga lagu tertentu pula.
Satu set kolintang biasanya dibutuhkan waktu antara tiga pekan hingga satu bulan.
Satu set alat musik kolintang, terdiri dari sembilan jenis alat musik, mulai dari melodi, penggiring hingga celo dan bass serta dijual dengan harga Rp 25,25 juta. Penutup kolintang dijual Rp 150.000, pemukul kolintang satu set Rp 500.000 dan stan partitur kolintang per satuan seharga Rp 150.000. Namun harga tersebut bukan standar secara keseluruhan penjualan, karena harga tergantung kualitas dan banyaknya alat musik.



Dan yang bagus untuk musik kolintang adalah kayu waru gunung dan cempaka. Kayu dengan bentuk yang pendek akan menghasilkan tangga lagu yang tinggi. Sebaliknya, kayu yang panjang akan menghasilkan tangga lagu (not) yang rendah.
Pada awalnya, Kolintang sempat dilarang dimainkan pada masa penjajahan Belanda. Sebabnya Kolintang digunakan untuk mengiringi upacara ritual pemujaan arwah leluhur oleh masyarakat setempat.
Seiring dengan waktu, ternyata Kolintang tidak hanya digemari di Sulut, tapi juga di daerah lain termasuk di Jawa. Sambutan publik terhadap kehadiran kolintang yang diiringi gitar, ukulele, dan string bas ini ternyata luar biasa. Bahkan, kolintang saat itu sempat menjadi salah satu media kampanye.
Selanjutnya, Kolintang terus berkembang. Di mana tidak sedikti kelompok musik yang sudah pentas melanglang ke berbagai negara di dunia, seperti Singapura, Australia, Belanda dan sekitarnya hingga Jerman, Amerika Serikat, dan Inggris. Kolintang juga sempat tampil di Swiss, Denmark, Swedia, dan Norwegia.
Di era 1990-an, Kolintang sangat populer bagi masyarakat di dalam negeri maupun luar negeri. Pembuat Kolintang pun mulai menjamur.
Pemesanan dari luar negeri terus mengalir, antara lain dari Australia, China, Korea Selatan, Hong Kong, Swiss, Kanada, Jerman, Belanda, dan Amerika Serikat. Hampir semua kedutaan besar Indonesia di dunia mengoleksi alat musik kolintang buatannya. Juga Twilite Orchestra pimpinan Addie MS memercayakan penggunaan alat musik kolintang dalam konser yang menggunakan alat musik kolintang.
Kini, alat musik Kolintang banyak digunakan dalam berbagai pagelaran di dalam maupun luar negeri. Selain harmoni dari berbagai nada yang terdengar indah, lantunan suara Kolintang juga mampu memukau orang yang mendengarnya. Bahkan Luar Negeri pun hingga kini masih menganggumi harmoni musik pukul kayu ini. (Andrian Novery Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i

Daftar Nama Lagu Daerah Musik Tradisional

Daftar Nama Lagu Daerah Musik Tradisional Khas Budaya Nasional - Kebudayaan Nusantara Indonesia

Lagu Ampar-Ampar Pisang berasal dari daerah / provinsi Kalimantan Selatan
Lagu Anak Kambing Saya berasal dari daerah / provinsi NTT
Lagu Angin Mamiri berasal dari daerah / provinsi Sulawesi Selatan
Lagu Anju Ahu berasal dari daerah / provinsi Sumatra Utara
Lagu Apuse berasal dari daerah / provinsi Papua
Lagu Ayam Den Lapeh berasal dari daerah / provinsi Sumatra Barat
Lagu Barek Solok berasal dari daerah / provinsi Sumatra Barat
Lagu Batanghari berasal dari daerah / provinsi Jambi
Lagu Bolelebo berasal dari daerah / provinsi Nusa Tenggara Barat
Lagu Bubuy Bulan berasal dari daerah / provinsi Jawa Barat
Lagu Bungong Jeumpa berasal dari daerah / provinsi NAD
Lagu Burung Tantina berasal dari daerah / provinsi Maluku
Lagu Butet berasal dari daerah / provinsi Sumatra Utara
Lagu Cik-Cik Periuk berasal dari daerah / provinsi Kalimantan Barat
Lagu Cing Cangkeling berasal dari daerah / provinsi Jawa Barat
Lagu Dago Inang Sarge berasal dari daerah / provinsi Sumatra Utara
Lagu Dayung Palinggam berasal dari daerah / provinsi Sumatra Barat
Lagu Dek Sangke berasal dari daerah / provinsi Sumatra Selatan
Lagu Desaku berasal dari daerah / provinsi NTT
Lagu Esa Mokan berasal dari daerah / provinsi Sulawesi Utara
Lagu Gambang Suling berasal dari daerah / provinsi Jawa Tengah
Lagu Gek Kepriye berasal dari daerah / provinsi Jawa Tengah
Lagu Goro-Gorone berasal dari daerah / provinsi Maluku
Lagu Gundul Pacul berasal dari daerah / provinsi Jawa Tengah
Lagu Haleleu Ala De Teang berasal dari daerah / provinsi NTB
Lagu Fluhatee berasal dari daerah / provinsi Maluku
Lagu llir-llir berasal dari daerah / provinsi Jawa Tengah
Lagu Indung-Indung berasal dari daerah / provinsi Kalimantan Timur
Lagu Injit-Injit Semut berasal dari daerah / provinsi Jambi
Lagu Jali-Jali berasal dari daerah / provinsi DKI Jakarta
Lagu Jamuran berasal dari daerah / provinsi Jawa Tengah
Lagu Kabile-bile berasal dari daerah / provinsi Sumatra Selatan
Lagu Kalayar berasal dari daerah / provinsi Kalimatan Tengah
Lagu Kambanglah Bungo berasal dari daerah / provinsi Sumatra Barat
Lagu Kampung nan Jauh Di Mato berasal dari daerah / provinsi Sumatra Barat
Lagu Ka Parak Tingga berasal dari daerah / provinsi Sumatra Barat
Lagu Keraban Sape berasal dari daerah / provinsi Jawa Timur
Lagu Keroncong Kemayoran berasal dari daerah / provinsi DKI Jakarta
Lagu Kicir-Kicir berasal dari daerah / provinsi DKI Jakarta
Lagu Kole-Kole berasal dari daerah / provinsi Maluku
Lagu Lalan Belek berasal dari daerah / provinsi Bengkulu
Lagu Lembah Alas berasal dari daerah / provinsi NAD
Lagu Lipang Lipangdang berasal dari daerah / provinsi Lampung
Lagu Lisoi berasal dari daerah / provinsi Sumatra Utara
Lagu Macep-cepetan berasal dari daerah / provinsi Bali
Lagu Madedek Magambiri berasal dari daerah / provinsi Sumatra Utara
Lagu Malam Baiko berasal dari daerah / provinsi Sumatra Barat
Lagu Mande-Mande berasal dari daerah / provinsi Maluku
Lagu Manuk Dadali berasal dari daerah / provinsi Jawa Barat
Lagu Ma Rencong berasal dari daerah / provinsi Sulawesi Selatan
Lagu Mejangeran berasal dari daerah / provinsi Baii
Lagu Meriam Tomong berasal dari daerah / provinsi Sumatra Utara
Lagu Meyong-Meyong berasal dari daerah / provinsi Bali
Lagu Moree berasal dari daerah / provinsi NTB
Lagu Na Sonang Dohita Nadua berasal dari daerah / provinsi Sumatra Utara
Lagu Ngusak Asik berasal dari daerah / provinsi Bali
Lagu Nuluya berasal dari daerah / provinsi Kalimantan Tengah
Lagu 0 Ina Ni Keke berasal dari daerah / provinsi Sulawesi Utara
Lagu Ole Sioh berasal dari daerah / provinsi Maluku
Lagu 0 Re Re berasal dari daerah / provinsi NTB
Lagu Orlen-Orlen berasal dari daerah / provinsi NTB
Lagu 0 Ulate berasal dari daerah / provinsi Maluku
Lagu Pai Mura Rame berasal dari daerah / provinsi NTB
Lagu Pakarena berasal dari daerah / provinsi Sulawesi Selatan
Lagu Palu Lempong Pupoi berasal dari daerah / provinsi Kalimantan Tengah
Lagu Panon Hideung berasal dari daerah / provinsi Jawa Barat
Lagu Paris Barantai berasal dari daerah / provinsi Kalimantan Selatan
Lagu Peia Tawa-Tawa berasal dari daerah / provinsi Sulawesi Tenggara
Lagu Pileuleuyan berasal dari daerah / provinsi Jawa Barat
Lagu Pinang Muda berasal dari daerah / provinsi Jambi
Lagu Pitik Tukung berasal dari daerah / provinsi DI Yogyakarta
Lagu Potong Bebek berasal dari daerah / provinsi NTT
Lagu Putri Ayu berasal dari daerah / provinsi Bali
Lagu Rambadia berasal dari daerah / provinsi Sumatra Utara
Lagu Rang Talu berasal dari daerah / provinsi Sumatra Barat
Lagu Rasa Sayang-Sayange berasal dari daerah / provinsi Maluku
Lagu Ratu Anom berasal dari daerah / provinsi Bali
Lagu Saputanga Bapuncu Ampat berasal dari daerah / provinsi Kalimantan Selatan
Lagu Sarinande berasal dari daerah / provinsi Maluku
Lagu Selendang Mayang berasal dari daerah / provinsi Jambi
Lagu Sengko-Sengko berasal dari daerah / provinsi Sumatra Utara
Lagu Sepakat Segenap berasal dari daerah / provinsi DI Aceh
Lagu Sinanggar Tulo berasal dari daerah / provinsi Sumatera Utara
Lagu Sing Sing So berasal dari daerah / provinsi Sumatra Utara
Lagu Sinom berasal dari daerah / provinsi DI Yogyakarta
Lagu Sipatokahan berasal dari daerah / provinsi Sulawesi Utara
Lagu Sitara Tillo berasal dari daerah / provinsi Sulawesi Utara
Lagu Soleram berasal dari daerah / provinsi Riau
Lagu Surilang berasal dari daerah / provinsi DKI Jakarta
Lagu Suwe Ora Jamu berasal dari daerah / provinsi DI Yogyakarta
Lagu Tahanusangkara berasal dari daerah / provinsi Sulawesi Utara
Lagu Tanduk Majeng berasal dari daerah / provinsi Jawa Timur
Lagu Tanase berasal dari daerah / provinsi Maluku
Lagu Tari Tanggai berasal dari daerah / provinsi Sumatra Selatan
Lagu Tebe O Nana berasal dari daerah / provinsi NTB
Lagu Tekate Dipanah berasal dari daerah / provinsi DI Yogyakarta
Lagu Tokecang berasal dari daerah / provinsi Jawa Barat
Lagu Tondok Kadindangku berasal dari daerah / provinsi Sulawesi Tengah
Lagu Tope Gugu berasal dari daerah / provinsi SulawesiTengah
Lagu Tumpi Wayu berasal dari daerah / provinsi KalimantanTengah
Lagu Tutu Koda berasal dari daerah / provinsi NTB
Lagu Yamko Rambe Yamko berasal dari daerah / provinsi Papua

Info Tambahan :
Anda bisa mencari lirik lagu daerah kesayangan anda pada fitur search yang ada pada situs organisasi.org :)
Kami hanya mempublikasikan lirik lagu yang non komersil saja.

sumber :http://organisasi.org

Selasa, 06 Januari 2009

Festival Gamelan For The Young 2008





Berkaca Dari
Festival Gamelan For The Young 2008


Pada tanggal 19 Desember 2008 malam, suasana di sekolah Santa Laurensia malam itu mendadak penuh dengan hingar-bingar musik gamelan, mulai dari gamelan Bali, Jawa dan Sunda. Festival gamelan ini diikuti oleh beberapa sekolah diantaranya, Santa Laurensia, PIS Madania Bogor, Santa Ursula, Bogor Raya, Regina Pacis dan Sang Timur. Sebelumnya tanggal 18 Desember 2008 juga diadakan sarasehan tentang musik gamelan dengan narasumber, Dwiki Darmawan dan Rahayu Supanggah yang dedikasi dan prestasi musiknya telah diakui oleh dunia internasional.
Dalam sarasehan tersebut kedua narasumber memberikan ilmu dan pengalamannya tentang musik gamelan di panggung dunia musik internasional, bahkan menurut Rahayu Supanggah di Singapura, pelajaran musik gamelan diwajibkan untuk dipelajari bagi siswa-siswi SD di Singapura sebagai bagian dari pendidikan karakter mereka, di amerika hingga saat ini telah terdapat sekitar 600 gamelan 80% diantaranya adalah gamelan jawa dan sisanya gamelan bali dan sunda. Bahkan Malaysia baru-baru ini juga telah mengadakan festival gamelan bertaraf internasional.
Mengapa dunia luar begitu mengagumi dan melihat musik gamelan sebagai musik masa depan dan wajib untuk segera di kuasai. Alasannya adalah musik gamelan adalah sebuah alat musik yang dimainkan secara kolektivitas, tak ada yang lebih penting di semua instrument gamelan, keseluruhannya adalah bagian yang tak terpisahkan sehingga kerjasama adalah hal mutlak yang harus dikedepankan untuk dapat memainkan gamelan. Musik gamelan menekankan pada toleransi, kerjasama, dan tentu saja melatih rasa/batiniah sehingga akan didapatkan kehalusan dan keseimbangan emosi.
Hal-hal demikianlah yang ternyata menarik minat dunia luar untuk menekuni musik gamelan, selain memang ada indikasi bahwa musik klasik barat yang kaku dan serius telah menemui titik kejenuhannya sehingga musik-musik dari dunia timur pelan-pelan dan pasti telah merasuki dunia barat, dan menurut Prof. Dr. Rahayu Supanggah sebagian negara di timur tengah pun telah mulai mempelajari musik gamelan.
Adanya festival gamelan di Laurensia School dapat dijadikan tonggak kebangkitan musik tradisional sebagai tuan rumah negeri sendiri, khususnya di kawasan Jakarta dan sekitarnya. Keragaman gamelan dari berbagai genre (Bali, Jawa, Sunda) dalam satu panggung telah memberi warna dan gairah bagi siswa/siswi maupun institusi pendidikan untuk menampilkan ketrampilan mereka secara maksimal. Di Yogyakarta ada Festival Gamelan Internasional, Festival Gamelan Gaul, di Solo ada festival musik tradisional internasional dan di Jakarta embrio festival gamelan telah hadir dan tinggal menunggu dan menanti langkah berikutnya, semoga tetap berkelanjutan dan menemukan bentuk yang lebih sempurna.

Minggu, 04 Januari 2009

Seni Sandur


KESENIAN SANDUR
(Teater Rakyat Yang Hampir Punah)

Seni pertunjukan Sandur dapat dikategorikan sebagai seni pertunjukan tradisional yang berbentuk teater tradisional. Sebagai bentuk teater tradisional, Sandur memiliki ciri-ciri yang sama dengan teater tradisonal daerah lainnya yaitu mempunyai sifat yang sederhana dalam penyajiannya.
Sebagai bentuk teater tradisional, seni pertunjukan Sandur mempunyai unsur cerita (drama), Tari, Karawitan, Akrobatik (Kalongking) juga terdapat unsur-unsur mistis, karena dalam setiap pementasanya selalu menghadirkan Danyang (roh halus).
Asal- usul Kesenian Sandur.
kesenian sandur berasal dari permainan anak-anak yang kemudian berkembang menjadi sebuah produk kesenian yang bertumpu pada upacara ritual. Karena sulitnya mencari bahan referensi dan minimnya studi tentang kesenian ini, maka awal keberadaannya tidak diketahui. Namun dari proses wawancara dengan para tokoh kesenian Sandur yang masih ada, dapat diperoleh keterangan bahwa Sandur ada sejak jaman kerajaan yang masih ,menganut aliran kepercayaan atau animisme.
Kata Sandur ada beberapa versi yang di antaranya dari kata san yang berarti selesai panen (isan) dan dhur yang berarti ngedhur. Dari sumber lain mengatakan bahwa sandur berasal dari bahasa Belanda yaitu soon yang berarti anak-anak dan door yang berarti meneruskan. Sumber lain juga menyebutkan bahwa Sandur yang terdiri dari berbagai cerita tersebut dengan sandiwara ngedur, artinya kesenian itu terjadi karena berisi tentang berbagai macam cerita yang tak akan habis sampai pagi.6
Pada sekitar tahun 1960-an Kesenian ini mengalami kemajuan yang sangat pesat, hampir di setiap desa di kecamatan kota Bojonegoro memiliki kelompok kesenian sandur.7 Kemudian pada tahun 1965 setelah meletusnya peristiwa G 30 S/PKI kesenian Sandur mengalami kemunduran yang sangat drastis. Hal ini disebabkan Sandur dicurigai telah disusupi oleh Lembaga Kesenian Rakyat (Organisasi massa milik PKI). Situasi politik pada saat itu membuat kesenian Sandur ini terpojok dan mengalami kemunduran. Masyarakat pendukungnya menjadi antipati terhadap kesenian tersebut. Hingga pada tahun 1978 kesenian ini muncul kembali, dan baru pada tahun 1993 Sandur mulai dipentaskan kembali pada festival kesenian rakyat berkat usaha dari seniman setempat bekerja sama dengan Departemen Penerangan dan Dinas Pendidikan dan Kebudayan. Hingga sampai saat ini kesenian Sandur telah beberapa kali dipentaskan.
Keberadaan Seni Pertunjukan Sandur.
Kesenian tradisional, khususnya seni pertunjukan rakyat tradisional yang dimiliki, hidup dan berkembang dalam masyarakat, sebenarnya mempunyai fungsi penting. Hal ini terlihat terutama dalam dua segi, yaitu daya jangkau penyebarannya dan fungsi sosialnya. Dari segi penyebaran, seni pertunjukan rakyat memiliki wilayah jangkauan yang meliputi seluruh lapisan masyarakat. Dari segi fungsi sosialnya, daya tarik pertunjukan rakyat terletak pada kemampuannya sebagai pembangun dan pemelihara solidaritas kelompok. Dengan demikian seni pertunjukan tradisional itu memiliki nilai dan fungsi bagi kehidupan masyarakat pemangkunya.
Seni pertunjukan Sandur berasal dari permainan anak-anak yang kemudian berkembang menjadi upacara ritual. Sandur adalah sebuah produk budaya masyarakat Bojonegoro, khususnya Desa Ledok Kulon. Kehadirannya sebagai bentuk media interaksi dalam norma kehidupan. Kesenian ini hadir karena solidaritas masyarakatnya atas nilai tersebut, dalam organisasi kelompok masyarakat setempat. Dalam kehidupan komunal telah hadir sebuah peradaban baru yang biasa disebut dengan era transformasi. Era tersebut membawa sistem nilai baru dalam masyarakatnya dengan masuknya listrik ke daerah ini serta hadirnya aneka barang elektronik yang melengkapi kehidupan mereka, produk tersebut memberikan wawasan baru yang datangnya tidak terkendali. Terlebih dengan merebaknya stasiun televisi yang operasionalnya cenderung menayangkan acara impor, telah menyebabkan ketidakseimbangan informasi. Hal ini akan berakibat buruknya tingkah laku remaja. Di sadari atau tidak masyarakat Ledok Kulon merupakan masyarakat yang cukup selektif, artinya mereka mampu mempertahankan norma dan adat yang berlaku dalam era transformasi ini. Pada hakikatnya kesenian Sandur bagi masyarakat Desa Ledok Kulon adalah sebagai penyeimbang dalam menghadapi era transformasi, di samping sebagai media informasi dan hiburan.
Sandur berawal dari sebuah bentuk permainan anak-anak, yang dalam perkembangannya lebih berfungsi sebagai ritual. Pertunjukan yang diadakan pada tanah lapang ini fungsi awalnya adalah sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang dicapai. Pemanggilan roh dan dewa-dewi, perlindungan nenek moyang terhadap kehidupan mereka, merupakan rangkaian maksud diselenggarakannya upacara. Sistem dan nilai yang diterapkan mengandung mitos norma-norma dasar tata laku dalam hubungan kepentingan vertikal dan horizontal. Tata nilai tersebut merupakan sebuah warisan pemahaman, bagaimana seharusnya siklus kehidupan orang Jawa. Kehidupan masyarakat agraris merupakan pengilhaman bentuk kesenian Sandur yang bermakna upacara kesuburan. Upacara ini rutin dilakukan ketika masa panen tiba. Kehadiran berbagai macam agama didaerah ini sedikit banyak telah mempengaruhi bentuk penyajian kesenian Sandur, karena pada saat itu kesenian dan keadaan sosial masyarakatnya merupakan alat politik untuk legitimasi seorang raja baik pada masa Hindu, Budha maupun pada masa Islam.
Sandur bagi masyarakat berfungsi sebagai media penerangan dan pendidikan, selain sebagai hiburan. Secara moral Sandur menjadi penyeimbang di era transformasi ini. Penawaran yang dilakukan oleh jaman, dirasakan tidak selalu sesuai dengan irama hidup masyarakat setempat, Muatan lokal yang terdapat didalamnya merupakan esensi hidup masyarakat, sebagai norma yang harus dipertahankan. Norma-norma tersebut didapatkan dari kehidupan kolektivitas atas wujud dari solidaritas masyarakat berdasarkan kesepakatan nilai norma sebagai hukum adat yang tidak tertulis. Usaha yang dilakukan dengan tidak mengubah bentuk penyajian Sandur merupakan cermin kebutuhan masyarakat atas nilai penyeimbang dan fungsi kesenian ini dalam kehidupan sehari-hari. Tema cerita yang diangkat adalah tentang kehidupan masyarakat sehari-hari, yang merupakan cermin keadaan realitas sosial.

C. Sarana Penunjang Pertunjukan Sandur.
Seni pertunjukan Sandur adalah seni pertunjukan rakyat yang sederhana, ini dapat diketahui dari bentuk pementasannya yang hanya dilakukan di tanah lapang dan hanya memakai lampu penerangan dari obor.
Sebagai salah satu seni pertunjukan, kesenian Sandur juga memerlukan sarana dan prasarana penunjang dalam pertunjukannya. Sarana penunjang dalam pertunjukan Sandur tersebut adalah :
1. Tempat dan Sarana Pertunjukan.
Seni pertunjukan sandur biasanya dipentaskan di tanah lapang, dibatasi pagar berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 8 x 8 meter yang biasa disebut Blabar Janur kuning, kemudian tali itu diberi hiasan lengkungan janur kuning dan digantungi aneka jajan pasar, selain itu juga terdapat ketupat dan lontong ketan atau lepet. Dua batang bambu jenis ori ditancapkan dengan ketinggian kurang lebih 10 – 12 meter, di antara bambu tersebut dipasang tali besar yang menghubungkan kedua bambu. Kedua batang bambu beserta talinya tersebut digunakan untuk adegan Kalongking.
Tata cahaya dalam pertunjukan sandur adalah obor mrutu sewu, yaitu sejenis obor yang lubang untuk menyalakan apinya terdapat lebih dari 3 lubang. Obor mrutu sewu ini terbuat dari bambu, biasanya dari jenis bambu ori. Bambu ori tersebut memang banyak terdapat di daerah Bojonegoro. Mrutu sewu ini dipasang di sekeliling arena pertunjukan.
Seperti halnya dengan jenis kesenian tradisi lainnya yang selalu menggunakan mantera dan sesaji dalam pementasan, demikian pula dengan seni pertunjukan Sandur, juga menggunakan mantera dan sesaji. Sesaji ini di buat dengan tujuan agar acara pertunjukan dapat berjalan dengan lancar dan sukses. Sesaji yang dipersiapkan antara lain, beras, dupa, cikalan yang bagian tengahnya di beri gula merah, kembang setaman dan kembang boreh.

2. Waktu Penyajian.
Durasi pertunjukan Sandur tidak memiliki batas waktu tertentu, bisa disajikan 3 hingga 5 jam pertunjukan. Namun seni pertunjukan Sandur biasanya disajikan pada malam hari mulai pukul 21.00 WIB hingga selesai menjelang subuh atau sekitar jam 03.00 WIB. Lama dan singkatnya waktu pertunjukan tergantung situasi dan kondisi permainannya.

3. Pemain.
Jumlah pendukung pementasan Sandur ini sekitar 20 sampai 25 orang, ke 25 orang tersebut terbagi dalam perannya masing-masing yaitu, 2 orang sebagai pemain musik yaitu sebagai Panjak Kendang dan Panjak Gong, 10 sampai 15 orang sebagai Panjak hore, 1 orang pemain Jaranan dan 1 orang Srati (pawang/dukun), 5 orang sebagai pemeran tokoh (Germo, Cawik, Pethak, Balong, Tangsil ), dan 1 orang sebagai pemain Kalongking.

4. Iringan.
Instrumen musik yang digunakan adalah Gong Bumbung dan sebuah Kendang Batangan/Ciblon yang dibantu dengan Panjak Hore dan berperan sebagai pelantun tembang serta tukang senggak. Semua bentuk iringan yang terdapat dalam seni pertunjukan Sandur memiliki stuktur gending dalam bentuk lancaran, yaitu satu tabuhan yang terdiri dari 4 gatra (16 sabetan ), tabuhan kenong terdapat pada sabetan ke 4, 8, 12 dan 16. Tabuhan kempul terdapat pada sabetan ke 6, 10 dan ke 14, tabuhan ketuk terletak pada ding gatra. Kendangan yang dipakai adalah pola sekaran pinatut. Tembang yang digunakan dalam seni pertunjukan Sandur sangat fungsional, selain sebagai pengiring keluar-masuknya pemain juga berfungsi sebagai mantera pemanggil roh halus.

5. Kostum.
Kostum merupakan salah satu bagian penting dalam sebuah pertunjukan, begitu juga halnya dengan seni pertunjukan Sandur yang menggunakan kostum untuk membedakan karakter peran satu dengan karakter peran lainnya. Kostum yang digunakan oleh para peran merupakan ciri bagi pemerannya yang mempunyai sifat khusus.
a. Pethak
Kostum yang digunakan oleh tokoh peran Pethak adalah, kuluk, sumping, dan surjan berwarna putih. Tokoh Pethak ini menggambarkan masyarakat kelas bawah yang memiliki karakter pekerja keras, ulet, lugu dan keras dalam pendiriannya.
b. Balong.
Kostum tokoh Balong memakai kuluk, elar, celana cinde dan pakaian hitam. Balong adalah gambaran masyarakat bawah, mempunyai berkarakter lemah, bodoh, dan mudah putus asa.
c. Tangsil.
Kostum yang dipakai Tangsil adalah jas, dasi, celana panjang dan memakai topi Kompeni. Tokoh ini menggambarkan orang yang sudah mapan, kaya, dewasa, bijaksana dan berwawasan luas.
d. Cawik
Tokoh Cawik biasanya diperankan oleh seorang wanita. Kostum yang dipakai Cawik adalah kostum penari. Tokoh cawik menggambarkan seorang wanita yang berprofesi sebagai Sindir (penari tayub).
e. Germo.
Tokoh Germo memakai celana komprang hitam, dan iket. Tokoh ini memiliki karakter tua, bijaksana dan merupakan identifikasi sebagai seorang pemimpin.
Tokoh tokoh pendukung lainnya seperti Panjak Kendang, Panjak Gong, Panjak Hore, Tukang Jaran dan pemain Kalongking biasanya memakai kostum seperti petani, yaitu hanya menggunakan celana komprang warna hitam.


6. Bentuk Penyajian.
Sandur terdiri dari delapan adegan yang terdapat dalam tiga babak, sedangkan pergantian babak selalu ditandai dengan tembang yang dilantunkan oleh Panjak Hore. Dalam seni pertunjukan Sandur tembang berfungsi sebagai pengiring keluar masuknya peran dan pergantian adegan, selain itu tembang juga berfungsi sebagai mantera pemanggil roh atau bidadari. Fungsi yang lain adalah sebagai narasi perjalanan tokoh peran. Ketiga babak tersebut terdiri dari:
a.Babak Pembukaan.
Babak pembukaan ditandai dengan dilantunkannya tembang Ilir Gantu. Para pemain berada di arena Blabar Janur Kuning. Tokoh Germo memperkenalkan satu persatu para pemain Sandur kepada penonton. Setelah acara perkenalan selesai para pemain keluar dari arena permainan menuju ruang rias yang dituntun oleh seorang perias. Pada saat para pemain tokoh peran keluar untuk dirias. Germo lalu memberikan narasi yang isinya menceritakan tentang perjalannan bidadari yang akan datang menuju ketempat pertunjukan dan masuk kedalam para pemeran.
Setelah para pemeran selesai dirias lalu kembali dibawa masuk ke dalam arena pentas dengan dituntun oleh seorang perias yang membawa obor. Semua pemeran masuk ke dalam arena pentas dengan kepalanya ditutupi selembar kain.
Pada babak pertama ini, berisi tentang eksposisi atau pemaparan dari awal kejadian tokoh dan cerita yang akan berlangsung. Babak ini memberikan penjelasan tentang rangkaian jalannya cerita. Keterangan yang didapat pada babak ini berisi tentang cerita kelahiran manusia yang diidentifikasikan melalui simbol-simbol dan tokoh-tokoh di dalamnya.
b.Babak Kedua.
Babak kedua ditandai dengan tembang Bukak Kudung. Pada adegan ini semua pemeran dibuka kain kerudung penutup kepalanya, selanjutnya telah menempati posisinya masing-masing. Di babak ini diceritakan tentang perjalanan tokoh Balong dan Pethak yang tengah mencari pekerjaan. Keseluruhan isi cerita di babak ini adalah perjalanan tentang kehidupan masyarakat agraris dengan segala permasalahannya.
c. Babak Ketiga.
Babak ketiga ini merupakan babak penutup, berisi tentang nasib akhir para tokoh peran. Pada babak ketiga ini akan diadakan atraksi Jaranan dan Kalongkingan. Kemudian baru diakhiri dengan tembang Sampun Rampung yang menandakan pertunjukan telah selesai disajikan.

7. Teks/Naskah.
Kesenian Sandur merupakan sebuah cermin kehidupan masyarakat Desa Ledok Kulon. Begitu juga sebaliknya, sistem kehidupan masyarakat yang kolektif menjadi titik tolak dalam penyutradaraan kesenian Sandur ini.
Awalnya cerita yang disajikan dalam seni pertunjukan Sandur hanya berdasarkan cerita turun temurun dan mitos yang berkembang di daerah tersebut. Penuangan cerita dan mitologi ke dalam kesenian Sandur belum menggunakaen naskah tertulis atau masih merupakan cerita tutur. Cerita yang tertulis dalam bentuk teks/naskah pertama kali dibuat pada tahun 1993 saat Sandur mengikuti pagelaran yang diselenggarakan di Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta. Di dalam naskah ini, tertulis urutan keluar masuknya para tokoh peran dan urutan tembang yang disajikan.
Dalam menggarap naskah Sandur, sutradara merupakan kreator. Sutradara berperan juga sebagai koordinator latihan, sekaligus menjadi mediator untuk mengungkap naskah dan tujuan misinya. Namun tidak jarang seorang penulis naskah merupakan sutradara sekaligus pemain. Sutradara dalam Sandur ini biasanya berperan sebagai tokoh Germo yang berfungsi sebagai dalang dan sekaligus dukun yang mengobati para pemain Jaranan yang sedang trans.
8. Penonton.
Penonton terdiri dari semua lapisan masyarakat, mulai dari anak–anak sampai orang tua. Tingkat apresiasi masyarakat terhadap kesenian sandur tergolong baik, ini dapat dilihat dari banyaknya jumlah penonton. Tak jarang para penonton juga ikut menirukan tembang yang dilantunkan oleh para Panjak Hore.