Judul buku: Bercermin Di Muka Kaca: Seniman, Seni dan Masyarakat
Penulis: Basuki Resobowo
Penerbit: Ombak
Cetakan: April 2005
Tebal: xxii + 139 halaman
ISBN: 979-3472-18-9
Sumber Artikel: http://www.berdikarionline.com/suluh/20120611/memahami-seni-untuk-rakyat.html#ixzz2phIHazHm
Follow us: @berdikarionline on Twitter | berdikarionlinedotcom on Facebook
Kata "seni" adalah sebuah kata yang semua orang di pastikan mengenalnya, walaupun dengan kadar pemahaman yang berbeda. Konon kabarnya kata seni berasal dari kata "SANI" yang kurang lebih artinya "Jiwa Yang Luhur/ Ketulusan jiwa".
Cari Artikel Lainnya
Tampilkan postingan dengan label batak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label batak. Tampilkan semua postingan
Senin, 06 Januari 2014
Menegaskan ‘Seni untuk Rakyat’
ak banyak yang tahu mengenai buku penting ini. Padahal, buku ini berusaha memberi jawaban atas salah satu polemik tua dalam sejarah umat manusia: hubungan seni dan politik. Perdebatan soal ini telah membela para seniman dan pendukungnya dalam dua kubu besar: ‘Seni untuk Seni’ versus “Seni untuk Rakyat”.
Adalah Basuki Resobowo (BR), seorang maestro pelukis Indonesia, yang berusaha menjawab perdebatan itu dalam bukunya, “Bercermin Di Muka Kaca: Seniman, Seni, dan Masyarakat”. Diterbitkan oleh penerbit Ombak, pada tahun 2005, tetapi kurang meluas dan kurang diketahui banyak orang.
Awalnya, BR berusaha memenuhi niatnya menulis. Akan tetapi, beberapa kali niatan itu kandas di tengah jalan. Namun, tiba-tiba sebuah kejadian memaksanya harus menulis dan menjelaskan posisi. Adalah kata-kata Sudjojono, kawan seperjuangannya, yang membuat BR sangat ‘terprovokasi, menulis: “Melukis dan politik adalah dua hal yang berlainan.”
Bagi BR, kata-kata Sudjojono itu ibarat “petir di siang hari”. “Setelah membaca kata-kata Sudjojono saya menjadi kaget. Ia pisahkan seni dari politik atau seni dari revolusi,” kata BR (hal. 11).
BR berusaha mengingat-ingat masa lalu, tepatnya tahun 1938, ketika Sudjono dan sejumlah pelukis progressif mendirikan organisasi bernama Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi). Saat itu, dalam kenangan BR, Sudjojono termasuk pencetus seni-rupa modern.
Menurut Sudjojono, sebagai seorang seniman—sekaligus sebagai manusia Indonesia—karya seni haruslah bercorak Indonesia. Agar bisa bercorak Indonesia, maka seniman tidak boleh hidup terpisah dari rakyat. Sebab, keadaan rakyat-lah yang merupakan keadaan sesungguhnya. Karya seni pun haruslah bertolak pada keadaan rakyat itu. Inilah dasar realisme!
Pemikiran Sudjojono tertancap kuat pada BR. BR masih mengingat pesan Sudjojono pada dirinya: “Bas, memang benar apa yang mereka (baca: pelarian Indonesia di Singapura) bilang. Apalagi kita sebagai seniman jangan sampai absen dan tidak ikut mengalami situasi politik yang penting dari sejarah bangsa Indonesia. Lingkungan dan masa memainkan peranan dalam terjadinya suatu karya seni, sekalipun bukan sebagai komponen yang menentukan.” (Hal. 16).
BR adalah seorang marxis-tulen. Dengan demikian, cara pandangnya tentang seni pun sangat dipengaruhi marxisme. Basuki memahami cita-cita kesenian—tentu dalam cara pandang marxis—sebagai upaya membawa seni kepada paham estetika baru, yaitu melenyapkan selera borjuis yang dekaden, dan menghidupkan seni yang mengisi dan memperkaya unsur kerohanian pada golongan lebih luas pada masyarakat, yaitu massa rakyat. Inilah aliran “Seni untuk Rakyat”. (Hal. 22)
Gerakan “Seni untuk Rakyat” makin menguat tatkala Sudjojono bersama seniman-seniman progressif lainnya mendirikan Seniman Indonesia Muda (SIM) pada tahun 1946. Organisasi ini, seperti diakui Basuki Resobowo, adalah embrio dari organisasi kesenian terbesar di tahun 1960an: Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra).
Haluan “seni untuk Rakyat”, yang sudah menjiwai SIM, kemudian dikembangkan oleh Lekra menjadi gerakan “1-5-1”: politik sebagai panglima, meluas dan meninggi, tinggi mutu ideologi dan artistik, tradisi baik dan kekinian revolusioner, kreativitas individual dan kreativitas massa, realisme sosial dan romantik revolusioner, dan turun ke bawah (turba).
Lukisan Telanjang
Di buku kecil yang hanya 139 halaman ini, Basuki Resobowo juga berusaha menulis secerca kisah perjalanan hidupnya. Lalu, Hersri Setiawan berusaha meringkasnya lagi dalam artikel penutup berjudul “Sosok Basuki Resobowo”.
Ia bercerita tentang lukisannya yang bergambar “wanita telanjang”. Basuki menuturkan, pada saat pameran lukisan pelukis SIM di Madiun, tahun 1947, lukisan tersebut diikutsertakan. Baru dua hari dipamerkan, lukisan itu sudah hilang. Rupanya, ada kelompok yang tak senang dengan lukisan itu. Dianggap merusak akhlak!
Chairil Anwar, yang sempat melihat lukisan itu, mengaku terkesima. Penyair terkemuka Indonesia sampai berdiri 10 menit di depan lukisan itu. Bahkan, Ia sampai membuat puisi tentang lukisan itu: Surga. “Hebat kau, Bas, semua yang kau ceritakan ada di lukisan itu,” kata Chairil kepada Basuki.
Bagi Basuki, lukisan telanjang itu merupakan bentuk “pendobrakan” terhadap kebudayaan Indonesia yang dekaden. Namun, ia mengatakan, lukisan telanjangnya berbeda dengan lukisan telanjang-nya Affandi. “Citranya bukan mendobrak budaya yang dekaden, melainkan media komunikasi high society di masyarakat eropa dan juga Indonesia,” kata Basuki. (Hal. 52)
Tetap Teguh!
Dalam buku itu, Basuki juga seakan menegaskan sikap politiknya tak pernah luntur: seorang marxis. Kendati, ia menerima pahit-ketir akibat pilihan politiknya itu dan membuatnya menjadi “emigran politik” di Eropa.
Bahkan, ketika kawan seperjuangannya, Sudjojono, seakan berpindah-haluan, Basuki tetap memeluk erat keyakinan politiknya itu. Padahal, ia terkadang menyaksikan kisah pahit para imigran politik di luar negeri: frustasi, pertikaian, hingga perpecahan.
Perjuangan memang tak mengenal kata akhir. Begitulah, pada tahun 1990-an, Basuki Resobowo masih terlibat dalam aksi politik menentang eksekusi 6 tapol PKI (Ruslan Wijayasastra dkk) di Indonesia dan berbagai aksi mendukung perjuangan anti-kediktatoran orde baru di tanah-airnya.
Basuki dilahirkan di Baturaja, Palembang, Sumatera Selatan. Sebagai anak asuh seorang paman yang berpangkat “Wedana-polisi”, Basuki bisa mengenyam pendidikan di ELS (sekolah rendah anak-anak eropa). Pada tahun 1930-an, ia sempat ke jogja dan bersekolah di Taman Siswa.
Tahun 1930-an itu, ia mulai mengenal dan berkenalan dengan Sudjojono. Sejak itu pula Basuki bertransformasi menjadi pelukis revolusioner. Menjelang pembacaan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Basuki menggelar “aksi corat-coret”: berita tentang kemerdekaan Indonesia.
Ia terilhami oleh pelukis kiri Meksiko, Diego Rivera, yang membuat propaganda melalui mural di tembok-tembok. Basuki pun melakukannya pada trem dan kereta api ekspres Jakarta-Surabaya. Dengan demikian, sebelum proklamasi dibacakan oleh Bung Karno, sebagian rakyat sudah tahu Indonesia merdeka.
Sumber Artikel: http://www.berdikarionline.com/suluh/20120611/memahami-seni-untuk-rakyat.html#ixzz2phI1XyxY
Follow us: @berdikarionline on Twitter | berdikarionlinedotcom on Facebook
Judul buku: Bercermin Di Muka Kaca: Seniman, Seni dan Masyarakat
Penulis: Basuki Resobowo
Penerbit: Ombak
Cetakan: April 2005
Tebal: xxii + 139 halaman
ISBN: 979-3472-18-9
Sumber Artikel: http://www.berdikarionline.com/suluh/20120611/memahami-seni-untuk-rakyat.html#ixzz2phIHazHm
Follow us: @berdikarionline on Twitter | berdikarionlinedotcom on Facebook
Judul buku: Bercermin Di Muka Kaca: Seniman, Seni dan Masyarakat
Penulis: Basuki Resobowo
Penerbit: Ombak
Cetakan: April 2005
Tebal: xxii + 139 halaman
ISBN: 979-3472-18-9
Sumber Artikel: http://www.berdikarionline.com/suluh/20120611/memahami-seni-untuk-rakyat.html#ixzz2phIHazHm
Follow us: @berdikarionline on Twitter | berdikarionlinedotcom on Facebook
seni reyog ""obyogan"", seni rakyat jelata
reyog ponorogo pada dasarnya adalah kesenian rakyat jelata yang dipertunjukkan dihadapan rakyat dengan format yang atraktif. Istilah ""obyogan"" sendiri terbentuk dari format pertunjukan reyog yang diarak keliling desa. Dalam kondisi tertentu seperti di perempatan atau rumah pamong desa berhenti untuk ""show up"" dihadapan masyarakat desa yang sudah menunggu. Tidak ada unsur magis dan kesurupan dalam pertunjukan ini, yang ada hanya tarian dan kekuatan fisik untuk mengangkat ""dadak merak"" yang beratnya lebih dari 60 kg yang diangkat dengan menggunakan gigi. Reyog obyogan ini diselenggarakan di desa Ngloning kecamatan Slahung Kabupaten Ponorogo Jawa timur sebagai hiburan rakyat untuk acara bersih desa yang diadakan pemerintah desa setempatwwwfotokita.net.
Rabu, 27 Februari 2013
Seni Tradisi Ditinggalkan Karena Dianggap Musyrik
Surakarta - Perkembangan seni tradisi mengalami hambatan serius dewasa ini. Secara perlahan, pelaku kesenian tradisi semakin langka sehingga seni tradisi terancam punah.
Direktur Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasis Media dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Harry Waluyo, berpendapat, seni tradisi semakin ditinggalkan karena dianggap musyrik dan bidah.
Sebab, seni tradisi biasanya berakar dari tradisi yang hidup di masyarakat. "Dan dalam perkembangannya, seni tradisi sangat erat dengan religi," ujarnya kepada wartawan seusai dialog seni tradisi di Surakarta, Ahad, 9 Desember 2012.
Salah seorang pembicara, I Wayan Dibia, menilai seni tradisi ditinggalkan karena sering dianggap kuno dan usang. "Padahal ada inovasi dan kreasi baru dalam seni tradisi. Hanya tidak sedahsyat seni kontemporer," katanya.
Dia mengatakan ada kesepakatan bahwa perubahan dalam seni tradisi tidak bisa frontal. Sebab, perubahan itu harus bisa diterima masyarakat luas.
Harry mengatakan, apa pun yang terjadi, seni tradisi Indonesia harus terus eksis. Salah satu caranya dengan memanfaatkan teknologi.
Nilai yang dikandung seni tradisi tetap dipertahankan, tetapi kemasannya dibantu teknologi agar lebih menarik. "Lalu sebisa mungkin memanfaatkan ruang publik untuk mementaskan seni tradisi. Tidak hanya secara fisik, tapi juga ruang publik di dunia maya," katanya.
Wayan Dibia menekankan perubahan cara pandang generasi muda terhadap seni tradisi. Generasi muda harus ditanamkan bahwa jika ingin menjadi orang modern, terlebih dahulu harus memperkuat seni tradisi.
Seni tradisi menjadi dasar dari pengembangan seni modern. "Kalau tidak punya dasar, seni modern yang dihasilkan tidak punya identitas dan jati diri," tutur Wayan Dibia, yang juga Rektor Institut Seni Indonesia Denpasar.
Upaya tersebut bisa dimulai dengan memperbanyak penulisan tentang seni tradisi. Jadi generasi muda sadar bahwa Indonesia adalah negara adibudaya.
Direktur Pengembangan Seni Pertunjukan dan Industri Musik Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Juju Masunah, mengatakan, seni tradisi dapat terus tumbuh karena sudah bertransformasi menjadi industri kreatif.
Menurut dia, saat ini seniman seni tradisi memproduksi produk atau karya untuk dijual ke wisatawan. "Akhirnya terjadilah perkawinan antara seni tradisi dan ekonomi kreatif," katanya dalam kesempatan yang sama.
Untuk mengembangkan potensi seni daerah, pihaknya menyelenggarakan pergelaran mahakarya seni tradisi di Institut Seni Indonesia Surakarta pada Ahad malam ini.
Dalam pergelaran akan ditampilkan Tari Bedhaya Bedah Madiun dari Jawa Tengah, Tari Srimpi Renggowati dari Daerah Istimewa Yogyakarta, Tari Piriang di Ateh Kato dari Padang, Tari Topeng Adiningrum dari Cirebon, Tari Baris Gede dari Bali, dan Tari Pakarena dari Makassar.TEMPO.CO,
Selasa, 27 Maret 2012
Budaya Tasikmalaya

Kampung Naga merupakan perkampungan tradisional dengan luas areal kurang lebih 4 ha. Lokasi obyek wisata Kampung Naga terletak pada ruas jalan raya yang menghubungkan Tasikmalaya – Bandung melalui Garut, yaitu kurang lebih pada kilometer ke 30 ke arah Barat kota Tasikmalaya.
Kampung Naga dihuni oleh sekelompok masyarakat yang sangat kuat dalam memegang adat istiadat peninggalan Ieluhumya. Hal ini akan terlihat jelas perbedaannya bila dibandingkan dengan masyarakat lain di luar Kampung Naga. Masyarakat Kampung Naga hidup pada suatu tatanan yang dikondisikan dalam suasana kesahajaan dan lingkungan kearifan tradisional yang lekat.
Secara administratif Kampung Naga termasuk kampung Legok Dage Desa Neglasari Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya.
Jarak tempuh dari Kota Tasikmalaya ke Kampung Naga kurang lebih 30 kilometer, sedangkan dari Kota Garut jaraknya 26 kilometer.
Untuk menuju Kampung Naga dari arah jalan raya Garut-Tasikmalaya harus menuruni tangga yang sudah ditembok (Sunda sengked) sampai ke tepi sungai Ciwulan dengan kemiringan sekitar 45 derajat dengan jarak kira-kira 500 meter. Kemudian melalui jalan setapak menyusuri sungai Ciwulan sampai ke dalam Kampung Naga. Menurut data dari Desa Neglasari, bentuk permukaan tanah di Kampung Naga berupa perbukitan dengan produktivitas tanah bisa dikatakan subur.
tasikkk
(naga vilage)
Luas tanah Kampung Naga yang ada seluas satu hektar setengah, sebagian besar digunakan untuk perumahan, pekarangan, kolam, dan selebihnya digunakan untuk pertanian sawah yang dipanen satu tahun dua kali.
Daya tarik obyek wisata Kampung Naga terletak pada kehidupan yang unik dari komunitas yang terletak di Kampung Naga tersebut. Kehidupan mereka dapat berbaur dengan masyrakat modern, beragama Islam, tetapi masih kuat memlihara Adat Istiadat leluhurnya. Seperti berbagai upacara adat, upacara hari-hari besr Islam misalnya Upacara bulan Mulud atau Alif dengan melaksanakan Pedaran (pembacaan Sejarah Nenek Moyang) Proses ini dimulai dengan mandi di Sungai Ciwulan dan Wisatawan boleh mengikuti acara tersebut dengan syarat harus patuh pada aturan disana.
Bentuk bangunan di Kampung Naga sama baik rumah, mesjid, patemon (balai pertemuan) dan lumbung padi. Atapnya terbuat dari daun rumbia, daun kelapa, atau injuk sebagi penutup bumbungan. Dinding rumah dan bangunan lainnya, terbuat dari anyaman bambu (bilik). Sementara itu pintu bangunan terbuat dari serat rotan dan semua bangunan menghadap Utara atau Selatan. Selain itu tumpukan batu yang tersusun rapi dengan tata letak dan bahan alami merupakan ciri khas gara arsitektur dan ornamen Perkampungan Naga.
OBYEK WISATA
Obyek wisata ini merupakan salah satu obyek wisata budaya di Tasikmlaya Wisatawan biasanya memiliki minat khusus yaitu ingin mengetahui dan membuktikan secara nyata keadaan tesebut. Pengembangan obyek wisata Kampung Naga termasuk dalam jangkuan pengembangan jangka pendek.
SEJARAH
Sejarah/asal usul Kampung Naga menurut salah satu versi nya bermula pada masa kewalian Syeh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, seorang abdinya yang bernama Singaparana ditugasi untuk menyebarkan agama Islam ke sebelah Barat. Kemudian ia sampai ke daerah Neglasari yang sekarang menjadi Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Di tempat tersebut, Singaparana oleh masyarakat Kampung Naga disebut Sembah Dalem Singaparana. Suatu hari ia mendapat ilapat atau petunjuk harus bersemedi. Dalam persemediannya Singaparana mendapat petunjuk, bahwa ia harus mendiami satu tempat yang sekarang disebut Kampung Naga.
Nenek moyang Kampung Naga yang paling berpengaruh dan berperan bagi masyarakat Kampung Naga “Sa Naga” yaitu Eyang Singaparana atau Sembah Dalem Singaparana yang disebut lagi dengan Eyang Galunggung, dimakamkan di sebelah Barat Kampung Naga. Makam ini dianggap oleh masyarakat Kampung Naga sebagai makam keramat yang selalu diziarahi pada saat diadakan upacara adat bagi semua keturunannya.
Namun kapan Eyang Singaparana meninggal, tidak diperoleh data yang pasti bahkan tidak seorang pun warga Kampung Naga yang mengetahuinya. Menurut kepercayaan yang mereka warisi secara turun temurun, nenek moyang masyarakat Kampung Naga tidak meninggal dunia melainkan raib tanpa meninggalkan jasad. Dan di tempat itulah masyarakat Kampung Naga menganggapnya sebagai makam, dengan memberikan tanda atau petunjuk kepada keturunan Masyarakat Kampung Naga.
Ada sejumlah nama para leluhur masyarakat Kampung Naga yang dihormati seperti: Pangeran Kudratullah, dimakamkan di Gadog Kabupaten Garut, seorang yang dipandang sangat menguasai pengetahuan Agama Islam. Raden Kagok Katalayah Nu Lencing Sang Seda Sakti, dimakamkan di Taraju, Kabupaten Tasikmalaya yang mengusai ilmu kekebalan “kewedukan”. Ratu Ineng Kudratullah atau disebut Eyang Mudik Batara Karang, dimakamkan di Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya, menguasai ilmu kekuatan fisik “kabedasan”. Pangeran Mangkubawang, dimakamkan di Mataram Yogyakarta menguasai ilmu kepandaian yang bersifat kedunawian atau kekayaan. Sunan Gunungjati Kalijaga, dimakamkan di Cirebon menguasai ilmu pengetahuan mengenai bidang pertanian.
Sumber : www.tasikmalaya.go.id, dieny-yusuf.com, www.westjava-indonesia.com
Label:
aceh,
awak,
bali,
batak,
borneo,
budaya,
burung,
dayak,
gondang. seni gondang,
indonesi2014,
jawa,
kalimantan,
murai,
papua,
PLPG,
seni,
seni budaya,
sunda,
tasikmalaya
Rabu, 18 Januari 2012
Pemuda Mengapresiasi Kesenian Tradisional

DALAM suatu kesempatan, seniman Butet Kertaredjasa pernah bertutur, "Budayawan juga pejuang, yang memperjuangkan budayanya, untuk tidak direbut oleh negara tetangga. Maka dari itu, harus pintar." Kalimat yang keluar dari mulut Butet, menurut beberapa kalangan, mungkin dirasa berlebihan.
Namun pernyataan itu akhirnya benar-benar terbukti juga! Di saat banyak kasus klaim atas budaya Tanah Air oleh negara tetangga, Malaysia, barulah kita terbakar amarah dan merasa cinta pada kebudayaan tradisional. Pada saat itulah kita sadar bahwa budayawan yang mungkin selama ini dianggap sebagai sosok yang biasa-biasa saja, akhirnya dianggap sebagai sosok yang penting, bahkan vital dalam mempertahankan citra kebudayaan nasional.
Pilu rasanya saat kebudayaan kita diklaim oleh Malaysia. Tidak hanya satu, tetapi banyak yang diklaim. Jika menilik lebih dalam, tidak sedikit dari kita pun yang memang kurang apresiasi terhadap kesenian tradisional di Indonesia. Kalau begitu siapa yang salah? Malaysia jelas tetap bersalah! Adapun kita sebagai masyarakat Indonesia juga patut memperbaiki diri agar lebih apresiatif terhadap kebudayaan yang kita miliki.
Adapun apresiasi terendah terhadap seni tradisional Indonesia barangkali lebih besar menghinggapi kalangan muda. Betapa tidak, pertunjukkan musik modern memang sudah mendarah daging di kalangan mayoritas anak muda saat ini. Berdesak-desakan untuk menonton konser musik modern tampaknya memang menjadi suatu hal yang lumrah.
Takut disebut "nggak gaul", pementasan kesenian tradisional pun ditinggalkan. Melihat permasalahan ini, jalan yang bisa ditempuh untuk memajukan kebudayaan nasional yang di dalamnya mencakup kebudayaan tradisional, tiada lain harus diawali dengan menumbuhkan rasa cinta terhadap kesenian daerah.
Rasa cinta inilah yang nantinya mendorong kita, khususnya pemuda, memiliki rasa ingin tahu terhadap kesenian masing-masing daerah dan menghargai kesenian tersebut. Di sisi lain, event pertunjukkan seni tradisional juga harus diperbanyak. Pihak lain tentu tidak akan berani mencuri apa yang kita anggap berharga, sedangkan kita sendiri memiliki pengetahuan yang mendalam dengan kesenian tersebut.
Kita tentu tidak rela lagu Rasa Sayange dari Maluku, reog ponorogo hingga tari pendet dari Bali diklaim kepemilikannya oleh bangsa asing. Pemuda sebagai penduduk terbanyak di negeri ini jelas memiliki peran besar sebagai apresian seni tradisional. Melalui tangan pemudalah kesenian kita bisa berkembang jika diapresiasi dengan baik.
Tidak hanya itu, kaum muda jualah yang nantinya bertindak sebagai penerus dan pemelihara kesenian tradisional karya anak bangsa yang tersebar di berbagai pelosok negeri. Budayawan kita tentu tidak bisa selamanya mengurus keberlangsungan kesenian daerah yang ada selama ini. Mari kita apresiasi budaya Indonesia.(*)
Sumber: Okezone
Selasa, 29 November 2011
Awal Mula Musik Dangdut

Setelah jalan jalan di google terbersit mencari kisah awal mula musik dangdut, yang dahulu dikatakan sebagai musik kere. sebenarnya hal yang salah jika kita menganggapnya seperti itu, soalnya banyak diantaranya musisi penyanyi dan pesinetron beralih ke musik dangdut walau dengan cita rasa berbeda, karna proghita bisa membaginya menjadi 2 bagian,
dangdut klasik dan dangdut modern. Apakah dangdut koplo termasuk dangdut modern?, jelas kalo dari suara yang dihasilkan itu adalah musik dangdut tetapi lebih mempunyai sentuhan kedarahan dimana musik koplo berkembang, sebut saja jawa timur sebagai komunitas musik dangdut koplo terpopular dan telah meyakinkan koplo masuk di jajaran dangdut modern dengan berbagai alat musik import.
Di priangan timur pun merebak jenis musik dengan istilah PONGDUT, kepanjangan dari “jaipong dangdut”. dan berkembang awal dari komunitas musisi calung, dan selama bertahun-tahun akhirnya bisa bertahan walau tidak sehebat musik dangdut koplo. dangdut jaipong atau jaipong dangdut atau Pongdut ini juga telah bergeser menjadi musik dangdut modern, soalnya sebelum pentas di jaman awal perkenalanya justru lebih banyak ke seni tradisionalnya dalam hal ini seni sunda calung, tetapi sekarang seni tradisinya sudah di tinggalkan walaupun ada porsinya lebihsedikit.
Perkembangan musik dangdut diatas jelas proGhita tau karena saya sebagai penulis sempat menjadi penggemar kedua musik dangdut diatas. Benarkah? Yup benarlah karena sebelum menjadi seorang blogger saya sempat menjadi penyiar dangdut di salah satu radio di priangan timur.
Selain dangdut diatas dari dulupun jenis musik dangdut modern telah ada, seperti hous dangdut, pop dangdut bahkan dangdut jazz:)
Sekarang kita simak perjalanan musik dangdut semenjak awal selmat membaca :
Aliran musik DangDut lahir setelah ajaran Islam masuk ke Indonesia yang sudah bercampur dengan aliran musik India.
Musik ini mulai tumbuh dan berakar sekitar tahun 1940.Musik ini dipengaruhi oleh unsur musik India yg diambil dari alat musiknya yang bernama Tabla atau musik yg menggunakan gendang.Sedangkan cengkok dan harmonisasinya merujuk ke musik Arab.Akhirnya dipadukan oleh pengaruh musik barat yang mulai marak di akhir tahun 1960-an dengan menggunakan gitar listrik..Dangdut bisa dikatakan lebih matang sejak tahun 1970-an.Ciri Khas musik dangdut diiringi oleh gendang suling dan joget yang gemulai.
Mengapa dinamakan DangDut
Dangdut kental dengan alat musik gendang. Suara gendang menghasilkan bunyi DANG dan DUT. Ada juga yang mengatakan “dangdut” ini berasal dari istilah atau sebutan sinis dari kalangan masyarakat kaum pekerja melayu pada masa itu berdasarkan sebuah artikel majalah awal th 70-an.
Musik ini jauh berbeda dengan musik tradisional asli Indonesia.Tetapi ada sedikit kemiripan khususnya dari adat tradisional melayu.Perjalanan musik Dangdut mengalami perubahan yang seknifikan dari masa kemasa.Dan akhirnya Musik Dangdut sudah membooming di Indonesia bahkan di Mancanegara.
By
Herdy Mertadinata
http://www.proghita.com/
Langganan:
Postingan (Atom)