Cari Artikel Lainnya

Tampilkan postingan dengan label Festival Gamelan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Festival Gamelan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 September 2011

Apa itu musik campursari


Oleh MUSAFIR ISFANHARI
Dosen Musik Universitas Negeri Surabaya

Istilah campursari dikenal awal 1970-an, ketika RRI Stasiun Surabaya memperkenalkan acara baru, yaitu lagu-lagu yang diiringi musik paduan alat musik berskala nada pentatonis (tradisional Indonesia) dan berskala nada diatonis (Barat).

Tapi sesungguhnya, paduan antara musik tradisional Indonesia dengan musik Barat bukan sesuatu yang baru. Jauh sebelum campursari ada, banyak musisi kelas dunia yang sudah melakukannya, antara lain Claude Achille Debussy (komposer Perancis, 1862–1918), Bella Bartok komponis Hunggaria, 1881– 1945).

Lalu Colin Mc Phee (komponis Amerika 1930-an) membuat komposisi diberi judul “Tabuh-tabuhan”. Kemudian Wheeler Backet, pada 1960-an membuat satu komposisi paduan antara musik Indonesia dan Barat yang dipentaskan di Amerika Serikat. Wheeler menampilkan seperangkat gamelan diiringi orkestra. Judul komposisinya “The Dedication to Indonesia”.

Dari Indonesia ada F.A. Warsono (1960-an). Pada 1975, Guruh Soekarno Putra bersama grup Guruh Gipsy memerkenalkan paduan musik Bali dan musik Barat. Lagu-lagunya antara lain, Indonesia Mahardika, Barong Gundah, dan lain lain.
Tentu saja, campursari yang kita dengar sekarang berbeda dengan campursari 1970-an. Apalagi dengan campursarinya Debussy, Bartok, atau Mc Phee.

Campursari memang sedang mencari bentuk baku. Sejatinya, campursari adalah musik hybrida hasil perkimpoian silang antara musik Barat dan musik tradisional Indonesia.

Ada baiknya kita memerhatikan Rumusan Ki Hajar Dewantara tentang Kebudayaan:

(1) lahir, tumbuh, berkembang, berbuah, sakit, tua, mundur dan akhirnya mati;

(2) kimpoi dan berketurunan, kumpul tak bersatu, berasimilasi, manunggal melahirkan bentuk baru;

(3) Mengalami seleksi, yang kuat akan hidup, yang lemah akan mati; (4) Menyesuaikan dengan alam (kodrat) dan zaman (masyarakat).
Mengacu hal tersebut, Campursari masuk ketegori nomor 2 (dua) kimpoi dan berketurunan, manunggal melahirkan bentuk baru.

Sekarang, kita amati lebih jauh bezzeting (perlengkapan/peralatan) musik campursari. Peralatan campursari terdiri antara 12 sampai 15 instrumen, terbagi atas 5 sampai 6 instrumen diatonis (kibor I dan II, bass gitar, cuk/ukulele, cak/banyo dan drum set). Sisanya alat musik berskala nada pentonis, antara lain gender, kendang set, saron, peking, dan lain-lain.

Persoalannya kemudian, bagaimana memadu dua sistem tangga nada pentatonis jawa dengan diatonis barat yang berbeda sistem tangga nadanya itu?

TANGGA NADA PENTATONIS

Mari kita urai perbedaan kedua sistem tangganada tadi. Dalam musik tradisional Karawitan Jawa (pentatonis) yang terdiri dua tangganada/laras : pelog dan slendro (kira kira sama dengan mayor dan minor) satuan jaraknya disebut cent, jarak antara satu nada dengan nada yang lain disebut sruti (interval).

Dalam satu gembyang (sama dengan musik diatonis: satu oktaf) terdapat 1.200 cent, hal ini sama dengan satu oktaf juga berjarak 1.200 cent juga. Perbedaannya terletak pada pembagian sruti antara satu nada dengan nada yang lain.

Dalam sisttm tangga nada karawitan Jawa, baik pelog maupun slendro hanya berisi lima nada Yaitu 1 (ji) – 2 (ro) – 3 (lu) – 5 (mo)– 6 (nem) 1 (ji). Perbedaannya terletak pada srutinya. Untuk slendro mempunyai sruti yang sama besar, yaitu masing masing 240 cent. Sedang untuk pelog ada perbedaan jarak, besar dan kecil.

TANGGANADA DIATONIS

Sementara itu di tangga nada yang berskala nada diatonis mempunyai 1.200 cent juga, namun terdapat 12 nada (papan putih dan hitam) mempunyai interval/sruti yang sama, yaitu masing masing 100 cent. Perbedaan interval/sruti antara dua sistem tangga nada (pentatonis dan diatonis) ini berakibat Ketinggian nada ( pitch) juga berbeda, sehingga ketika dua nada dari dua sistim yang berbeda ini dipadukan/disatukan akan terdengar paduan bunyi yang disonan (paduan bunyi yang memberi kesan tidak tenang dan gelisah).

Hal inilah yang banyak dipersoal an kalangan musisi campursari.

PERBANDINGAN SKALA NADA


1 (ji) 2 (ro) 3 (lu) 5 (mo) 6 (nem)
Do Re Mi Fa Sol La Si

Dalam diagram di atas tampak jelas perbedaan ketinggian nada (pitch) antara satu sistem tangga nada. Inilah, (seperti yang sudah ditulis di atas) menjadi paduan bunyi yang disonan. Walau seorang teman saya pemusik kontemporer mengatakan, “Dalam musik kontemporer masalah disonan kan bukan sesuatu hal yang tabu”.

Lalu, bagaimana penyelesaiannya? Jalan keluar yang banyak dilakukan musisi campursari adalah melaras ulang instrumen karawitan menjadi berskala nada diatonis. Dengan demikian, bunyi instrumen karawitan akan menyatu dengan instrumen diatonis.

Tapi persoalannya tidak berhenti sampai di situ saja. Karena, hakikat musik sesungguhnya ada pada sistem tangga nadanya. Banyak kalangan musisi tradisi keberatan dengan pelarasan ulang alat musik karawitan yang berskala nada pentatonis menjadi diatonis. Karena ciri dari alat musik karawitan adalah sistem tangga nadanya.

Memang tone colour tetap berasa karawitan, tapi sudah tidak punya ‘jiwa’ dan ‘ruh’ karawitan. Ibarat gadis Eropa diberi pakaian tradisional Jawa, pakai jarit, pakai suweng, berselendang, rambut disanggul, namun ketika berjalan tak tampak gandes luwes-nya putri Jawa. Tak tampak juga (seperti yang ada disyair salah satu lagu langgam jawa : “Mlakune koyo macan luwe”).

Ini tentu PR bagi musisi campursari, bagaimana menyandingkan instrumen musik Barat dengan instrumen karawitan dengan tetap berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Masyarakat menunggu kreativitas musisi campursari. Karena ada kesan yang tidak bisa dihindari, ada sistem tangga nada yang dikalahkan dan ada sistem tangga nada yang dimenangkan.

http://hurek.blogspot.com.

Selasa, 06 Januari 2009

Festival Gamelan For The Young 2008





Berkaca Dari
Festival Gamelan For The Young 2008


Pada tanggal 19 Desember 2008 malam, suasana di sekolah Santa Laurensia malam itu mendadak penuh dengan hingar-bingar musik gamelan, mulai dari gamelan Bali, Jawa dan Sunda. Festival gamelan ini diikuti oleh beberapa sekolah diantaranya, Santa Laurensia, PIS Madania Bogor, Santa Ursula, Bogor Raya, Regina Pacis dan Sang Timur. Sebelumnya tanggal 18 Desember 2008 juga diadakan sarasehan tentang musik gamelan dengan narasumber, Dwiki Darmawan dan Rahayu Supanggah yang dedikasi dan prestasi musiknya telah diakui oleh dunia internasional.
Dalam sarasehan tersebut kedua narasumber memberikan ilmu dan pengalamannya tentang musik gamelan di panggung dunia musik internasional, bahkan menurut Rahayu Supanggah di Singapura, pelajaran musik gamelan diwajibkan untuk dipelajari bagi siswa-siswi SD di Singapura sebagai bagian dari pendidikan karakter mereka, di amerika hingga saat ini telah terdapat sekitar 600 gamelan 80% diantaranya adalah gamelan jawa dan sisanya gamelan bali dan sunda. Bahkan Malaysia baru-baru ini juga telah mengadakan festival gamelan bertaraf internasional.
Mengapa dunia luar begitu mengagumi dan melihat musik gamelan sebagai musik masa depan dan wajib untuk segera di kuasai. Alasannya adalah musik gamelan adalah sebuah alat musik yang dimainkan secara kolektivitas, tak ada yang lebih penting di semua instrument gamelan, keseluruhannya adalah bagian yang tak terpisahkan sehingga kerjasama adalah hal mutlak yang harus dikedepankan untuk dapat memainkan gamelan. Musik gamelan menekankan pada toleransi, kerjasama, dan tentu saja melatih rasa/batiniah sehingga akan didapatkan kehalusan dan keseimbangan emosi.
Hal-hal demikianlah yang ternyata menarik minat dunia luar untuk menekuni musik gamelan, selain memang ada indikasi bahwa musik klasik barat yang kaku dan serius telah menemui titik kejenuhannya sehingga musik-musik dari dunia timur pelan-pelan dan pasti telah merasuki dunia barat, dan menurut Prof. Dr. Rahayu Supanggah sebagian negara di timur tengah pun telah mulai mempelajari musik gamelan.
Adanya festival gamelan di Laurensia School dapat dijadikan tonggak kebangkitan musik tradisional sebagai tuan rumah negeri sendiri, khususnya di kawasan Jakarta dan sekitarnya. Keragaman gamelan dari berbagai genre (Bali, Jawa, Sunda) dalam satu panggung telah memberi warna dan gairah bagi siswa/siswi maupun institusi pendidikan untuk menampilkan ketrampilan mereka secara maksimal. Di Yogyakarta ada Festival Gamelan Internasional, Festival Gamelan Gaul, di Solo ada festival musik tradisional internasional dan di Jakarta embrio festival gamelan telah hadir dan tinggal menunggu dan menanti langkah berikutnya, semoga tetap berkelanjutan dan menemukan bentuk yang lebih sempurna.